Jakarta, Gizmologi – Ayaneo kabarnya resmi untuk berhenti produksi Kronkr Pocket FIT yang menggunakan Snapdragon 8 Elite. Hal ini disebabkan karena krisis chip yang semakin parah dan AI Demand yang membuat kebutuhan RAM, dan SSD semakin meningkat harganya.
Situasi industri semikonduktor tampaknya belum menunjukkan tanda membaik. Bahkan, kondisi terbaru justru mengarah ke arah sebaliknya, dengan kenaikan harga komponen seperti RAM, SSD, hingga CPU yang mulai berdampak langsung ke produk konsumen.
Perusahaan menyebut bahwa batch produksi berikutnya kemungkinan besar akan menjadi yang terakhir. Kenaikan harga komponen storage disebut sebagai penyebab utama, membuat biaya produksi melonjak jauh di atas ekspektasi awal.
Baca Juga: Apple Resmi Setop Mac Pro, Akhir dari Era Desktop Modular Ikonik
Harga Komponen Naik, Produk Mulai “Tumbang”

Ayaneo Konkr Pocket FIT sendiri merupakan handheld Android dengan layar 6 inci 1080p 144Hz, baterai 8.000mAh, serta opsi chipset Snapdragon G3 Gen 3 atau Snapdragon 8 Elite. Namun, varian dengan Snapdragon 8 Elite kini dipastikan tidak akan diproduksi lagi setelah restock terakhir.
Kondisi ini menunjukkan bahwa bahkan produk niche seperti handheld gaming pun tidak kebal terhadap fluktuasi harga komponen. Dalam kasus ini, varian performa tinggi justru jadi korban pertama karena biaya produksinya paling terdampak.
Masalahnya tidak berhenti di situ. Produk lain seperti Ayaneo NEXT 2 bahkan harus menghentikan pre-order sepenuhnya. Dengan spesifikasi tinggi dan harga sekitar $2.000, perangkat ini dinilai tidak lagi ekonomis untuk dijual karena biaya produksinya sudah melampaui harga jual.
Dampak Meluas, Industri PC Gaming Ikut Tertekan
Apa yang dialami Ayaneo hanyalah sebagian kecil dari gambaran besar. Valve juga dilaporkan mengalami keterbatasan stok untuk Steam Deck, sementara proyek lain seperti Steam Machine dan perangkat VR mereka ikut tertunda.
Di sisi komponen, tekanan juga semakin nyata. Intel dikabarkan akan menaikkan harga CPU hingga 10%, diikuti oleh AMD dengan potensi kenaikan hingga 15%.
Kondisi ini menegaskan bahwa masalah bukan hanya terjadi di satu lini produk atau satu perusahaan saja. Kenaikan harga komponen inti berdampak langsung ke seluruh rantai industri, dari produsen hingga konsumen.
Bagi pengguna, ini berarti harga perangkat ke depan berpotensi semakin mahal, atau bahkan ketersediaannya semakin terbatas. Sementara bagi produsen, situasinya jauh lebih kompleks, menyeimbangkan antara biaya produksi dan harga jual yang masih bisa diterima pasar.
Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin kita akan melihat lebih banyak produk “gugur” sebelum sempat benar-benar berkembang di pasar.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



