LG CNS, integrator sistem asal Korea Selatan yang membangun Coretax, menyatakan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) kini menjalankan operasional harian sistem administrasi perpajakan itu secara mandiri.
Sejak April 2026, perusahaan hanya melanjutkan dukungan lewat kontrak pemeliharaan basis data dan infrastruktur inti. Menurut Presiden LG CNS Indonesia, Mansik Won, perusahaan tetap memberikan dukungan pemeliharaan setelah melakukan alih teknologi kepada personel DJP.
Coretax sendiri merupakan sistem administrasi perpajakan melayani pendaftaran wajib pajak, pelaporan SPT, hingga pembayaran pajak. Dalam hal ini, LG CNS berperan sebagai integrator sistem yang mengoordinasikan pembangunan dan menghubungkan berbagai komponen teknologi dalam proyek tersebut.
Mansik Won atau yang akrab dipanggil Mark ini menjelaskan, keterlibatan perusahaan dalam Coretax mencakup pembangunan sistem, penanganan kendala, hingga transfer pengetahuan kepada personel DJP. Untuk pengembangan berikut, ia menilai fondasi sistem dan data Coretax dapat menjadi modal penerapan AI.
Baca Juga: Penjualan Galaxy Z Fold8 Series Naik 45% di Eropa, Efek iPhone Lipat?
“Kami sudah melakukan alih teknologi kepada personel DJP. Saat ini, DJP menjalankan operasional harian secara mandiri,” kata Mark saat diwawancarai tim Gizmologi di Jakarta, baru-baru ini.
Coretax diluncurkan pada 31 Desember 2024 dan mulai diterapkan pada 1 Januari 2025. Sistem ini menjadi bagian dari pembaruan layanan administrasi perpajakan Indonesia. Saat pertama kali diterapkan, Coretax sempat menghadapi kendala.
Kala itu, DJP menjelaskan sejumlah langkah perbaikan, mulai dari kapasitas jaringan, akses penanggung jawab perusahaan, dan pembuatan faktur pajak hingga pendaftaran serta pembayaran.
LG CNS Datangkan Tim Teknis dari Korea

Mark mengatakan LG CNS bersama DJP berfokus mengidentifikasi masalah, mencari penyebab, dan menyiapkan penyelesaian. Menurut dia, kendala pada sistem besar dapat muncul dari satu masalah sederhana maupun gabungan beberapa penyebab.
Ia menjelaskan, tahap stabilisasi setelah sistem dibuka dapat mencakup persoalan internal aplikasi serta kebutuhan adaptasi pengguna. Penjelasan itu disampaikan sebagai gambaran proses penanganan, tanpa merinci penyebab setiap gangguan Coretax.
“Untuk menangani kondisi saat itu, kami mendatangkan tim teknis khusus dari Korea. Tim ini bertugas menganalisis masalah dengan cepat dan mengusulkan solusi,” ujar Mark. Selanjutnya, tim teknis kemudian bekerja bersama DJP untuk melakukan penanganan. Mark menilai kondisi sistem saat wawancara sudah lebih stabil.
“Saat ini, sistem sudah jauh lebih stabil. Sepengetahuan saya, tidak ada kendala besar dalam penggunaan sistem,” kata dia. Meski sudah secara langsung terlibat dalam pengelolaan harian, sistem pajak ini tetap disertai dukungan dari LG CNS.
Mark menyebutkan, dia dan timnya telah mendampingi operasional dan stabilisasi Cortex hingga Maret 2026. Sejak DJP mengambil tanggung jawab operasional pada April 2026, perusahaan melanjutkan dukungan melalui kontrak pemeliharaan. Cakupan yang disebut meliputi basis data dan infrastruktur inti sistem.
Potensi AI pada Coretax Sangat Besar, Tapi…

Mark menilai Coretax memiliki fondasi yang dapat mendukung penerapan AI karena sistem dan data sudah tersedia. Secara pribadi, pria yang sudah 20 tahun bersama LG CNS ini berpendapat kondisi tersebut membuat DJP memiliki kesiapan yang baik untuk mengembangkan AI.
“AI tidak dapat bekerja dengan baik tanpa data. Coretax sudah memiliki sistem dan basis data berskala besar,” ujar Mark. “AI berpeluang membantu memperbaiki fungsi dan melengkapi sistem. Namun, penilaian kesiapan itu belum berarti proyek penerapan AI sudah diputuskan.”
Saat ditanyakan lebih lanjut tentang apakah AI bisa diterapkan pada sistem Coretax dan membuatnya optimal, Mark hanya menjawab, “bisa diterapkan, tetapi hal tersebut tergantung dari keputusan dari pihak DJP dan terkait lainnya apakah ingin menggunakan AI.”
AC LG Raih Empat Penghargaan Sepanjang 2026

Di sisi lain, pendingin udara atau AC LG meraih empat penghargaan merek di Indonesia sepanjang 2026. Penghargaan tersebut mencakup Top Brand Award 2026, WOW Brand Award 2026, Brand Choice Award 2026, dan yang terbaru SuperBrand 2026.
Keempat penghargaan tersebut memiliki konteks dan aspek penilaian yang berbeda. LG menyebut pencapaian ini menjadi bagian dari evaluasi terhadap kinerja merek, inovasi produk, serta penerimaan konsumen di pasar Indonesia.
Penghargaan terbaru yang diterima adalah SuperBrand 2026. Dalam keterangan LG, penghargaan tersebut diberikan berdasarkan penilaian terhadap sejumlah aspek, termasuk kinerja, inovasi, dan penerimaan merek di pasar. Sebelumnya, AC LG telah menerima tiga penghargaan lain sepanjang tahun ini, yakni Top Brand Award, WOW Brand Award, dan Brand Choice Award 2026.
Empat Penghargaan untuk AC LG

LG mengaitkan penghargaan yang diterimanya dengan sejumlah aspek berbeda dalam hubungan antara merek dan konsumen. Untuk Top Brand Award 2026, LG menyebut penghargaan tersebut menggunakan hasil survei independen yang mengukur tingkat kesadaran merek, penggunaan, serta loyalitas konsumen di pasar Indonesia.
Sementara Brand Choice Award 2026 berkaitan dengan pilihan konsumen serta performa merek di kanal perdagangan digital dan marketplace. Adapun WOW Brand Award 2026 menilai aspek hubungan dan keterikatan antara merek dengan pelanggan, termasuk kualitas produk, layanan, komunikasi, dan pengalaman pelanggan secara keseluruhan.
Perbedaan tersebut membuat empat penghargaan ini tidak sepenuhnya mengukur hal yang sama. Ada yang berfokus pada persepsi dan penggunaan merek, sementara lainnya berkaitan dengan pilihan konsumen di kanal digital atau pengalaman pelanggan.
Joohoon Kim, Product Director AC ES LG Electronics Indonesia, mengatakan penghargaan tersebut menjadi refleksi terhadap persepsi konsumen terhadap AC LG. Menurutnya, LG berupaya menjawab kebutuhan konsumen melalui produk yang menawarkan kenyamanan, efisiensi energi, kualitas udara, dan kemudahan penggunaan.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

