Produksi sebuah series tidak selalu harus dimulai dengan kamera profesional, gimbal, dan perangkat produksi yang memenuhi koper. Saat menggarap Kembali, Nara di Bangkok, Gizmologi justru mencoba pendekatan yang berbeda dengan menjadikan Samsung Galaxy S26 Ultra sebagai salah satu perangkat utama dalam proses produksi.
Series microdrama enam episode tersebut merupakan bagian dari program My Gadget My Adventure: Bangkok, yang menggabungkan perjalanan, pengalaman menggunakan teknologi, dan produksi konten dalam satu rangkaian.
Bagi tim Gizmologi, tantangannya bukan sekadar bagaimana membuat Galaxy S26 Ultra mampu merekam gambar yang bagus. Lebih dari itu, perangkat tersebut harus bisa mengikuti ritme produksi yang berpindah-pindah lokasi, dilakukan di tengah aktivitas Bangkok, sekaligus menghasilkan footage yang cukup fleksibel untuk kebutuhan editing.
Hasilnya kemudian bisa dilihat dalam Kembali, Nara, sebuah cerita bergenre mystery, adventure, dan slice of life yang mengambil sejumlah lokasi di Bangkok sebagai bagian dari cerita.
Galaxy S26 Ultra Menjadi Bagian dari Workflow Produksi
Salah satu tantangan produksi Kembali Nara adalah mobilitas. Tim berpindah dari jalanan Bangkok, kawasan Talat Noi dan Song Wat, hingga area sekitar Wat Arun. Ada adegan yang direkam sambil berjalan, berada di kendaraan, sampai mengambil gambar dalam kondisi yang tidak memungkinkan kru membawa terlalu banyak perangkat tambahan.
Kondisi seperti ini membuat fitur stabilisasi menjadi penting. Dalam video BTS produksi yang dibuat Gizmologi, Prasetyo Herfianto yang menjadi sutradara menunjukkan bagaimana Galaxy S26 Ultra dimanfaatkan untuk kebutuhan pengambilan gambar selama produksi.
Salah satu fitur yang mendapat perhatian adalah Super Steady dengan Horizontal Lock. Fitur ini merupakan pengembangan Super Steady yang memungkinkan orientasi video tetap horizontal ketika perangkat dimiringkan atau bahkan diputar. Samsung menjelaskan bahwa Horizontal Lock memanfaatkan kombinasi sensor seperti gyroscope dan accelerometer serta OIS untuk membantu menjaga orientasi video tetap stabil.
Dalam konteks produksi Kembali, Nara, kemampuan tersebut terasa relevan ketika kamera harus mengikuti pergerakan subjek atau digunakan dari posisi yang tidak selalu ideal. “Jadi nggak perlu takut, tangannya pun nggak harus lurus,” menjadi salah satu poin yang disampaikan dalam video BTS ketika tim membahas pengalaman menggunakan fitur tersebut.
Buat produksi mobile yang banyak mengandalkan pergerakan spontan, kemampuan seperti ini bukan sekadar gimmick. Kru bisa lebih leluasa menentukan gerakan kamera tanpa harus selalu memikirkan apakah horizon akan ikut miring. Dan yang tidak kalah penting, tidak perlu membawa gimbal tambahan untuk mendapatkan stabilisasi tersebut.
Horizontal Lock Dipakai untuk Adegan yang Bergerak
Salah satu contoh menarik terlihat ketika tim membuat konten BTS menggunakan tuk-tuk Bangkok. Kendaraan ini tentu bukan lingkungan ideal untuk menghasilkan footage yang stabil. Ada getaran kendaraan, perubahan arah, jalan yang tidak selalu mulus, serta posisi kamera yang terus bergerak.
Justru kondisi seperti itu menjadi kesempatan untuk menguji kemampuan stabilisasi Galaxy S26 Ultra. Prasetyo Herfianto dan Zihan Fajrin menjelaskan pengalaman menggunakan fitur tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana Galaxy S26 Ultra digunakan dalam situasi produksi yang sebenarnya.
Pendekatan ini berbeda dengan sekadar membuat video demonstrasi fitur. Fitur diuji dalam kondisi yang memang dihadapi kru ketika membuat konten. Hal tersebut menjadi salah satu prinsip produksi Kembali, Nara: teknologi tidak perlu selalu menjadi pusat cerita, tetapi harus mampu membantu cerita berjalan.
Galaxy S26 Ultra Juga Dipakai dengan Log dan LUT

Selain stabilisasi, tim produksi juga mengeksplorasi kemampuan video Galaxy S26 Ultra melalui Samsung Log dan LUT. Prasetyo Herfianto memperlihatkan penggunaan mode video serta proses memilih tampilan warna melalui LUT. Salah satu pilihan LUT yang terlihat adalah Coming-of-age, yang memang tersedia dalam fitur Cine LUT pada Galaxy S26 Series.
Samsung menjelaskan bahwa LUT pada dasarnya merupakan pemetaan warna untuk mengubah tampilan warna footage sesuai look yang diinginkan. Cine LUT pada Galaxy S26 Series dioptimalkan untuk footage Samsung Log sehingga proses mendapatkan tampilan sinematik dapat dilakukan dengan lebih praktis.
Bagi produksi seperti Kembali, Nara, fleksibilitas ini cukup menarik. Footage tidak harus langsung terlihat seperti hasil akhir ketika direkam. Tim memiliki ruang untuk menentukan karakter visualnya ketika masuk ke tahap post-production.
Dengan kata lain, smartphone tidak hanya dipakai sebagai perangkat untuk “shoot and post”, tetapi juga memberikan ruang untuk workflow produksi yang lebih serius.
Dari Video hingga Foto, Satu Perangkat Dipakai di Lapangan
Penggunaan Galaxy S26 Ultra dalam proyek ini juga tidak berhenti pada video. Selama perjalanan Bangkok, tim Gizmologi menggunakan kamera Galaxy S26 Ultra untuk menghasilkan berbagai materi foto. Mulai dari dokumentasi perjalanan, portrait, street photography, arsitektur, hingga kebutuhan visual untuk konten editorial dan media sosial.
Galaxy S26 Ultra sendiri membawa kamera utama 200 MP, kamera ultra-wide, serta kamera telefoto yang memberikan fleksibilitas untuk mengambil gambar dari berbagai jarak. Samsung juga membekali perangkat ini dengan Space Zoom hingga 100x serta peningkatan Nightography untuk pengambilan gambar dalam kondisi cahaya rendah.
Dalam produksi di Bangkok, fleksibilitas tersebut menjadi penting karena karakter lokasi berubah dengan cepat.vSatu momen bisa berupa wide shot yang memperlihatkan suasana jalanan. Beberapa detik kemudian, kamera perlu mengambil detail subjek dari jarak lebih jauh. Di kondisi lain, tim harus mendapatkan gambar dengan suasana malam atau pencahayaan yang lebih kompleks. Alih-alih mengganti perangkat atau lensa, kebutuhan tersebut bisa ditangani langsung dari satu smartphone.
Pemanfaatan Galaxy AI
Penggunaan Galaxy S26 Ultra selama MyGadgetMyAdventure Bangkok ternyata tidak berhenti di urusan mengambil gambar. Perangkat ini juga dipakai untuk berbagai kebutuhan selama perjalanan, termasuk ketika tim harus berkomunikasi dan mencari informasi di tengah eksplorasi Bangkok.
Salah satu yang paling terasa adalah AI Interpreter. Fitur ini memang menjadi bagian dari cerita Kembali, Nara, tetapi penggunaannya tidak berhenti sebagai elemen di dalam script. Dalam salah satu adegan, Nara menggunakan AI Interpreter untuk membantu berkomunikasi dengan pengelola sebuah kafe di Bangkok. Percakapan dalam bahasa Thailand kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia melalui Galaxy S26 Ultra.
Buat tim produksi, penggunaan seperti ini terasa lebih natural dibanding sekadar memasukkan fitur AI ke dalam dialog. Fitur tersebut muncul karena memang ada kebutuhan dalam cerita: karakter harus berkomunikasi dengan seseorang yang menggunakan bahasa berbeda.
Di luar kebutuhan syuting, Galaxy AI juga membantu ketika tim mengeksplorasi berbagai lokasi di Bangkok. Circle to Search digunakan untuk mencari informasi mengenai objek atau tempat yang ditemui selama perjalanan. Alih-alih harus mengetik nama objek atau mencari dengan kata kunci yang belum tentu diketahui, tim bisa langsung menggunakan Circle to Search pada layar untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Ini cukup berguna ketika sedang berpindah-pindah lokasi dan ingin mengetahui lebih jauh mengenai sesuatu yang menarik perhatian.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

