OpenAI memperkenalkan GPT-6 Astra pada 3 September 2026, di mana model AI generasi baru ini membawa peningkatan pada computer use, coding, pekerjaan profesional, sains, hingga cybersecurity.
Tak hanya itu, perusahaan mengklaim model AI baru miliknya memiliki kemampuan untuk menjalankan rangkaian pekerjaan langsung di komputer.
Walau sudah diumumkan, GPT-6 Astra masih belum langsung tersedia untuk semua pengguna. Raksasa teknologi itu menyebut, model AI generasi baru ini akan digulirkan ke sejumlah organisasi secara terbatas.
Baca Juga: DJI Osmo 360 II Resmi di Indonesia, Bawa Rekaman 8K 60fps dan Sensor HDR 1 Inci
Dalam beberapa hari mendatang, OpenAI akan mulai memperluas akses ke pelanggan ChatGPT Plus, Pro, Business, dan Enterprise, serta melalui OpenAI API, Microsoft Azure, dan AWS Bedrock.
“GPT-6 Astra merupakan model AI paling cerdas dan paling selaras yang pernah dikembangkan,” kata OpenAI dalam keterangan resminya, Sabtu (5/6/2026).
Perusahaan menambahkan, “Astra dirancang untuk mampu menyelesaikan pekerjaan multilangkah di dalam aplikasi dan browser minim campur tangan pengguna.”
GPT-6 Astra Fokus Jalankan Pekerjaan di Komputer

Fokus utama pengumuman ini bukan soal jawaban lebih pintar, tapi soal Astra bisa “mengerjakan” sesuatu langsung di komputer. Model ini bisa mengoperasikan browser dan berbagai aplikasi desktop untuk tugas-tugas yang selama ini butuh tangan manusia: isi formulir, riset online, olah data, sampai bikin dan menguji software.
OpenAI memamerkan beberapa kemampuan Astra, seperti menyusun layout printed circuit board di KiCad, membangun environment 3D di Unity, mengolah data di Power BI dan Jupyter, sampai merancang komponen mekanis pakai FreeCAD dan Blender.
Di level “kantoran,” model AI ini juga bisa dipakai untuk financial modeling, penyusunan dokumen hukum, dan pengisian draft formulir pajak.
Angka di baliknya cukup jelas. Di benchmark OSWorld 2.0. Astra mencatat skor 72,6 persen, naik dari 65,7 persen milik GPT-5.6 Sol. OpenAI juga mengklaim Astra menyelesaikan simulasi tugas sekitar 47 persen lebih cepat, rata-rata 40 menit per tugas dibanding 75 menit pada model sebelumnya.
OpenAI Mulai Bicara Soal “Era AGI”

Lompatan kemampuan di Astra ini juga membuat OpenAI menggunakan bahasa lebih agresif dibanding peluncuran model sebelumnya.
Dalam briefing kepada media, Presiden OpenAI Greg Brockman bahkan menutup presentasinya dengan kalimat: “Selamat datang di era.”
Brockman mengatakan ia secara pribadi menilai OpenAI telah mencapai artificial general intelligence (AGI), meski menyerahkan penilaian mengenai apakah Astra benar-benar memenuhi definisi tersebut kepada pengguna.
Pernyataan itu menarik, tetapi tidak sebaiknya dibaca sebagai bukti teknis perdebatan mengenai definisi AGI sudah selesai. Tidak ada satu benchmark yang secara universal diterima sebagai penentu tercapainya AGI.
OpenAI sendiri lebih konkret ketika membahas kemampuan Astra dalam announcement resminya. Model tersebut mencatat 99,9 persen pada ARC-AGI-3, 97,6 persen pada FrontierMath Tier 4 dalam tabel evaluasi, serta 100 persen pada ExploitBench
Kemampuan Cyber GPT-6 Astra Sudah Masuk Level Critical

GPT-6 Astra menjadi model OpenAI pertama mencapai kategori Critical untuk kemampuan cybersecurity berdasarkan Preparedness Framework perusahaan.
Menurut OpenAI, dengan tools dan akses sesuai, model pada level tersebut sudah mampu menemukan kerentanan keamanan yang sebelumnya tidak diketahui dan mengembangkan metode untuk mengeksploitasinya di sistem yang memiliki perlindungan kuat, tanpa harus diarahkan manusia pada setiap langkah.
Astra mencetak skor 100 persen dalam ExploitBench. Pada benchmark menggunakan kerentanan V8 periode Juni–Agustus 2026, skornya mencapai 39 persen, dibanding 11,5 persen pada GPT-5.6 Sol. OpenAI juga mengatakan pengujian model menemukan dua celah zero-day yang sebelumnya belum diketahui.
Kemampuan tersebut membuat versi Astra yang tersedia secara umum tidak diberikan akses bebas untuk semua jenis pekerjaan cybersecurity.
Model akan menolak sebagian tugas cyber tingkat lanjut, termasuk pembuatan proof-of-concept exploit untuk kerentanan. Akses yang lebih longgar disiapkan melalui program OpenAI Daybreak untuk kelompok defender yang dipercaya.
Astra Lebih “Nurut,” tapi Lebih Susah Dipantau
Walau tampil sebagai model AI paling canggih di pasaran, OpenAI sendiri mengakui sisi lemah modelnya. Di satu sisi, Astra disebut sebagai model paling aligned yang pernah mereka buat.
“Astra jarang mengambil tindakan di luar tujuan pengguna dan tidak mencoba mengakali penolakan sistem Codex Auto-Review dalam skenario pengujian tertentu,” jelas perusahaan.
Tapi di sisi lain, written reasoning Astra justru lebih sulit dipantau dibanding GPT-5.6 Sol, khususnya saat model diuji coba menghindari pengawasan.
OpenAI bilang Astra masih kesulitan menyembunyikan reasoning untuk masalah-masalah kompleks dan belum sepenuhnya “lolos” dari pengawasan, tapi tren penurunan monitorability ini tetap dianggap serius dan masuk daftar riset lanjutan.
Sebagai jaring pengaman, Astra dibekali sistem monitoring tambahan. ChatGPT atau Codex bisa menghentikan sementara sebuah pekerjaan dan meminta pengguna meninjau ulang tindakan sebelum lanjut. OpenAI sendiri mewanti-wanti mekanisme ini bisa sesekali salah berhenti, menahan pekerjaan yang sebenarnya sah-sah saja.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

