Resmi, Honor Bakal Lepas dari Kepemilikan Huawei

0 1.287

Melalui sebuah pernyataan resmi yang diterbitkan hari ini (17/11), Huawei secara resmi akan melepas lini bisnis sub-brand mereka, Honor. Hal tersebut terpaksa dilakukan karena adanya tekanan yang cukup tinggi di beberapa waktu belakangan, terutama atas peraturan dagang dengan Amerika Serikat.

Dengan begitu, seluruh aset bisnis Honor yang sebelumnya dimiliki oleh Huawei, sepenuhnya akan diserahkan ke perusahaan baru bernama Shenzhen Zhixin New Information Technology Co., sebuah konsorsium yang terdiri dari beberapa rekanan serta bisnis yang dilatari oleh pemerintah resmi. Keputusan juga dibuat oleh pihak Honor sendiri.

Baca juga: Langkah Huawei Lepas dari Google dengan Merilis Petal Search, Maps, dan Docs

Seluruh Aset Bakal Berpindah Tangan Ke Perusahaan Baru

Dalam sebuah pernyataan yang sama, diketahui bila sudah ada lebih dari 30 agen dan diler dari jenama (brand) Honor yang telah mengajukan proses akuisisi ini sebelumnya, demi menyelamatkan lini bisnis Honor. Ketika proses penjualan dan akuisisi nanti selesai, Huawei akan terbebas dari kepemilikan saham maupun tak terlibat dari semua keputusan bisnis yang dibuat Honor ke depannya.

Akuisisi ini bakal terjadi secara menyeluruh, dimana Shenzhen Zhixin New Information Technology Co. bakal mendapat semuanya termasuk fasilitas R&D, manajemen rantai pasok, termasuk aset lain seperti lebih dari 7,000 karyawan Honor. Tak disebutkan nilai akusisinya secara resmi, namun kabar dari yang didapat oleh portal berita Reuters menyebutkan bila nilainya bisa mencapai 100 miliar yuan atau sekitar Rp212 triliun.

Sebelumnya, Honor sendiri adalah sub-brand dari Huawei yang berfokus untuk menjual smartphone secara daring. Tujuannya? Untuk berikan smartphone dengan value yang lebih tinggi umumnya di kelas entri hingga menengah ke atas. Sejak 2013, smartphone Honor bisa tawarkan perangkat dengan chipset terbaik Huawei, di harga yang signifikan lebih terjangkau.

Lepas Dari Huawei, Honor Bisa Lebih Bebas Kembangkan Produk

Penjualannya di Indonesia pun cukup baik, dan selama tujuh tahun eksis di industri smartphone, Honor telah mencapai jumlah pengapalan 70 juta unit smartphone setiap tahunnya. Namun kemudian, Huawei masuk dalam sebuah entitas gelap dari departemen Amerika Serikat, yang membuat penjualannya mengalami limitasi cukup hebat. Salah satunya adalah tak bisa merilis smartphone dengan layanan Google.

Namun kemudian tak sampai di situ, Huawei juga terancam tidak bisa merilis chipset Kirin besutannya sendiri. Hal tersebut karena Amerika Serikat memblokir akses ke pembuat cip, seperti TSMC yang digunakan Huawei untuk hadirkan cip Kirin. Prosesor Kirin 9000 yang ada di Huawei Mate 40 series dikabarkan bakal menjadi yang terakhir, sebelum akhirnya Huawei harus berpindah menggunakan chipset kompetitot seperti Qualcomm.

Menjadi sub-brand, otomatis Honor juga harus mengikuti peraturan sesuai dengan sang induk. Akhirnya beberapa perangkat terbarunya terpaksa tak memiliki layanan Google, dan juga mendapat ancaman yang sama. Justru dengan terlepasnya Honor dari Huawei, batasan yang ada selama ini bakal hilang. Harapannya, Honor bakal bisa merilis perangkat yang lebih kompetitif dari sebelumnya.

Di sisi lain, lepasnya Honor ini juga bakal menjadi angin segar bagi Huawei. Pasalnya, Qualcomm dilaporkan telah mendapatkan izin memasok chipset ke Huawei. Qualcomm disebut bisa memenuhi permintaan Huawei dengan syarat perusahaan menjual anak perusahaan Honor. Hal itu mengingat kapasitas produksi Qualcomm tak mampu menampung permintaan dari Huawei dan Honor sekaligus.