CEO Nvidia Jensen Huang mendapat kejutan saat tampil di All-In Summit di Los Angeles. Di tengah pembahasan mengenai perkembangan kecerdasan buatan (AI), Huang menerima telepon langsung dari Presiden AS Donald Trump. Alih-alih meninggalkan panggung, Jensen Huang justru mengaktifkan pengeras suara agar percakapan tersebut dapat didengar oleh peserta acara.
Melansir dari Tech Crunch, Trump kemudian menyampaikan dukungannya terhadap pandangan Huang mengenai perkembangan industri AI. Momen tersebut terjadi ketika Huang dan pembawa acara sedang membahas seruan CEO Anthropic Dario Amodei agar pengembangan kemampuan AI frontier dilakukan dengan laju yang lebih terkendali.
Perbedaan pandangan ini menjadi menarik karena sejumlah pemimpin perusahaan teknologi lain, termasuk CEO OpenAI Sam Altman dan CEO SpaceX Elon Musk, sebelumnya menyatakan dukungan terhadap gagasan Amodei. Huang sendiri justru mengambil posisi berbeda dan menilai perlambatan dapat menghambat perkembangan industri AI Amerika Serikat.
Baca Juga: SK hynix Prediksi Krisis Memori Berlanjut hingga 2030, Harga Tetap Tinggi
Trump Dukung Pengembangan AI

Dalam percakapan dengan Jensen Huang, Trump menyebut seruan untuk memperlambat perkembangan AI dapat menguntungkan pihak yang ingin menghambat industri AS, termasuk China. Huang kemudian menyatakan persetujuannya, yang disambut tepuk tangan dari peserta konferensi.
Trump juga menekankan bahwa Amerika Serikat perlu tetap berhati-hati dalam mengembangkan industri tersebut. Menurutnya, pembangunan infrastruktur AI perlu dilakukan secara bijaksana, tetapi bukan berarti pertumbuhan industri harus dihentikan. Pernyataan itu menunjukkan pemerintah AS ingin mempertahankan posisi negara sebagai pemimpin AI sekaligus menghadapi kekhawatiran terhadap dampak ekspansi infrastrukturnya.
Kekhawatiran Data Center Tetap Menguat
Salah satu persoalan yang ikut menjadi perhatian adalah pembangunan data center dalam skala besar. Pemerintah dan sejumlah pelaku industri menilai ekspansi tersebut penting untuk memenuhi kebutuhan komputasi AI. Namun, masyarakat di sejumlah wilayah justru mulai mempertanyakan dampaknya terhadap lingkungan dan biaya hidup.
Data Gallup menunjukkan sekitar tujuh dari 10 warga AS menolak pembangunan data center di wilayah mereka. Lebih dari separuh responden yang menolak menyebut dampak terhadap sumber daya lingkungan sebagai kekhawatiran utama, sementara sebagian lainnya menyoroti kenaikan biaya hidup dan kualitas hidup.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa perdebatan AI kini bukan hanya soal kemampuan teknologi. Di satu sisi, perusahaan seperti Nvidia melihat pembangunan infrastruktur sebagai bagian penting untuk mempertahankan daya saing AS. Di sisi lain, meningkatnya kebutuhan energi dan sumber daya membuat ekspansi tersebut menghadapi resistensi publik yang tidak bisa begitu saja diabaikan.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

