Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Microsoft Terdepak, TikTok Dilaporkan Gandeng Oracle Sebagai Mitra Teknologi di AS

0 1.870

Microsoft yang begitu berambisi untuk mengakuisisi operasional TikTok di Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negera lain akhirnya menyerah. Karena ByteDance sebagai pemilik TikTok menolak penawaran tersebut. Tanpa perlu gembar-gembor, Oracle dikabarkan justru yang bakal dipilih oleh ByteDance.

Oracle sendiri adalah salah satu perusahaan utama pengembang sistem manajemen basis data. Perusahaan yang didirikan oleh Larry Ellison, Bob Miner, dan Ed Oates pada 1977 ini memang dikenal andal untuk menangani sistem basis data kelas enterprise. Sehingga pilihan TikTok ke Oracle pun dianggap strategis untuk menyimpan database pengguna AS.

Rencana akusisi TikTok ini bermula dari ketegangan antara Amerika Serikat dan China. Setelah memblokir Huawei, Presiden AS Donald Trump mengklaim TikTok dapat digunakan oleh China untuk melacak lokasi karyawan federal, membuat dokumen tentang orang-orang untuk pemerasan, dan melakukan spionase perusahaan.

Di sisi lain, ByteDance mengatakan tidak pernah memberikan data pengguna AS kepada pemerintah China, dan Beijing mengecam tindakan keras Trump sebagai tindakan politis. Karena melarang TikTok beroperasi di AS kecuali jika dimiliki oleh perusahaan lokal, maka Microsoft mengajukan untuk mengakuisisinya. Meski sayangnya, cinta tersebut bertepuk sebelah tangan.

“ByteDance memberi tahu kami hari ini bahwa mereka tidak akan menjual operasi TikTok AS ke Microsoft. Kami yakin proposal kami akan baik untuk pengguna TikTok, sekaligus melindungi kepentingan keamanan nasional” demikian pernyataan Microsoft di blog resminya (13/9/2020).

Microsoft menambahkan, untuk melakukan itu, pihaknya akan membuat perubahan signifikan untuk memastikan layanan memenuhi standar tertinggi untuk keamanan, privasi, keamanan online, dan memerangi disinformasi. The Washington Post melaporkan bahwa Oracle telah dipilih ByteDance sebagai ‘”mitra teknologi” untuk meredakan kekhawatiran AS. Artinya, kesepakatan tidak akan disusun sebagai penjualan langsung.

Sebagaimana dilansir dari Reuters mengutip sumber yang mengatakan itu akan menjadi restrukturisasi daripada penjualan, dengan Oracle menangani data pengguna TikTok di AS. Sumber tersebut tidak mengungkapkan berapa banyak operasi TikTok AS, ByteDance dan investornya akan terus miliki. Karena memang prosesnya juga masih tengah berjalan.

Baca juga: CISSReC: Tidak Ditemukan Transmisi Data Mencurigakan dan Malware di TikTok

Menunggu Persetujuan Washington dan Beijing

TikTok
Ilustrasi TikTok (Foto: 123rf/prykhodov)

Bagaimanapun, ByteDance akan membutuhkan persetujuan untuk kesepakatan dari Washington dan Beijing. Masih belum jelas apakah Trump, yang menginginkan perusahaan teknologi AS memiliki sebagian besar TikTok di Amerika Serikat, akan menyetujui proposal tersebut atau tidak. Baik ByteDance maupun Oracle juga belum menanggapai komentar tersebut, begitupun dari Gedung Putih.

Sementara itu laman South China Morning Post mengatakan ByteDance tidak akan menjual atau mentransfer algoritma TikTok dalam kesepakatan penjualan atau divestasi apa pun. Ini mengutip sumber yang diberi pengarahan tentang diskusi ruang rapat perusahaan China dan mengutip kontrol ekspor baru pemerintah China.

Pada akhir Agustus, Beijing mengeluarkan pembatasan atau larangan baru pada ekspor teknologi, yang mengharuskan perusahaan untuk meminta persetujuan pemerintah, di mana sebuah proses dapat memakan waktu hingga 30 hari.

Aturan yang belum diperbarui sejak 2008 itu diyakini bertujuan untuk menunda penjualan TikTok kepada pembeli AS. Beberapa teknologi telah dihapus dari daftar ekspor yang diatur, termasuk teknologi vaksin, tetapi 23 tambahan baru termasuk teknologi yang berkaitan dengan antarmuka AI, pengenalan suara, dan analisis rekomendasi konten.

TikTok adalah aplikasi video pendek yang sangat populer di berbagai belahan dunia. Di AS sendiri, setidaknya aplikasi ini telah diunduh 175 juta kali dan lebih dari satu miliar kali di seluruh dunia.