Jakarta, Gizmologi – Tepat pada Minggu (5/4), Indonesia Game Rating System (IGRS) mulai memberikan rating pada berbagai game yang ada di platform Steam. Ya, IGRS memiliki sistem yang serupa seperti Entertainment Software Rating Board (ESRB), sehingga lembaga tersebut bertugas untuk memberikan rating usia pada game-game yang dijual bebas.
Namun, IGRS dinilai memberikan sebuah karya yang justru sangat merugikan gamer di Indonesia. Banyak pengamat dan gamer mengungkapkan amarahnya terhadap IGRS karena dianggap memberikan rating yang kurang sesuai konsep game atau genre game yang ada. Bahkan, terdapat tulisan “Not Fit For Distribution” yang berarti game tersebut tidak bisa dijual bebas.
Karena adanya tulisan tersebut, maka game-game yang ada di platform Steam terancam terblokir dan para gamer tidak bisa memainkan game atau membeli game. Uniknya, game yang melewati fase Rating dari IGRS dinilai sangat tidak tepat.

Terdapat sebuah game bernama A Space for the Unbound, dan game ini merupakan game garapan TOGE Production (Developer Lokal). Nah, game ini memiliki genre Adventure, Indie dan hanya menceritakan tentang seorang siswa SMA yang melewati berbagai perjalanan spiritual dengan seorang gadis SMA. Akan tetapi, A Space for the Unbound mendapatkan rating 18+ dari IGRS, yang kemudian memicu polemik di media sosial.
Kemudian, ada game yang jelas-jelas memiliki konsep 18+, bahkan game ini merupakan game dewasa yang mengandung banyak konten pornografi, berjudul Nukitashi. Hal yang bisa dibilang membuat gamer Indonesia geleng-geleng kepala adalah keputusan IGRS yang memberikan rating game ini “3+”. Ya, tentu sangat mengejutkan banyak komunitas gamer Indonesia.
Baca Juga: Tencent Cloud Gandeng ComfyUI, Dorong Pembuatan Konten 3D AI Lebih Mudah
Komdigi Buka Suara Terkait IGRS

Berita ini sangat ramai diperbincangkan oleh berbagai kalangan, sampai Meutya Hafid, Menteri Komunikasi dan Digital buka suara. Dirinya mengatakan bahwa pihak Komdigi akan meminta klarifikasi dari Steam. Lantas, pernyataan ini membuat banyak gamer Indonesia yang geram, karena Steam hanya berperan sebagai platform yang mengikuti perintah dari pemerintah setempat.
“Karena itu, Kemkomdigi akan meminta klarifikasi resmi dari Steam dan melakukan pembahasan lebih lanjut mengenai dasar hukum implementasi rating, mekanisme pemantauan, prosedur penyesuaian apabila terjadi ketidaksesuaian, serta tata cara pelaporan layanan IGRS di platform tersebut” ucap Kemkomdigi pada pernyataan resmi yang bisa dilihat langsung dari laman resmi Komdigi.
“Rating yang beredar tersebut bukan merupakan hasil klasifikasi resmi IGRS. Hal ini berpotensi menimbulkan kesalahpahaman publik, terutama terkait kelayakan usia suatu gim,” tegas Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Direktorat Jenderal Ekosistem Digital Sonny Hendra Sudaryana dalam sebuah kesempatan di Jakarta Pusat, Minggu (05/04/2026).
Dari pernyataan tersebut, banyak gamer Indonesia melihat bahwa Kemkomdigi terkesan tidak adil terkait penempatan rating yang sesuai dari game yang ada di Steam. Hal ini tentu saja sontak menimbulkan kekecewaan, terutama bagi para gamer yang menemukan bahwa game favorit mereka justru terkena imbasnya dan tidak bisa dimainkan untuk sementara waktu.
Beberapa Kekeliruan Rating Game yang Dilakukan IGRS

Berikut adalah sejumlah daftar game yang dinilai mendapatkan rating tidak sesuai:
- Grand Theft Auto: San Andreas (3+)
- Peak (18+)
- Player Unknown Battleground (PUBG) (3+)
- Plant vs Zombie (18+)
- Upin & Ipin Universe (18+)
- Doom: Eternal (3+)
- Dead Space (3+)
- Subnautica (18+)
- Farming Simulator (18+)
Kemudian, berikut adalah beberapa judul game yang mendapatkan informasi “Tidak Layak Distribusi”:
- Grand Theft Auto V
- Persona 5: Royal
- Metaphor: Refantazio
- Cyberpunk: 2077
- Metal Gear Solid Delta
- The Witcher 3: Wild Hunt
- Clair Obscur: Ex[edition 33
- The Elder Scroll V: Skyrim
- Kingdom Come: Deliverance II
- Nioh 3
- Yakuza kiwami 3 & Dark Ties
- Dispatch
- Baldur’s Gate 3
- Detroit: Become Human
- The Sims 4
Itulah beberapa game popular yang mendapatkan label tidak layak distribusi. Bahkan, masih banyak lagi game yang mendapatkan label tersebut. Maka dari itu, ini menjadi salah satu hal yang unik dan cukup menimbulkan kegeraman kepada para gamer di Indonesia.
Rating Game yang Kacau Bisa Buat Industri Game Melemah di Indonesia

Kesimpulannya, polemik IGRS yang timbul saat ini menunjukkan adanya masalah serius dalam implementasi sistem rating game di Indonesia. Alih-alih memberikan panduan usia yang akurat dan melindungi konsumen, sejumlah penilaian justru terlihat tidak konsisten dan bertolak belakang dengan konten asli dari game itu sendiri. Ketidaksesuaian ini bukan hanya membingungkan, tetapi juga berpotensi merusak ekosistem gaming yang selama ini sudah berkembang cukup sehat.
Di sisi lain, respons dari Komdigi juga memicu pertanyaan baru. Fokus pada klarifikasi ke platform seperti Steam dinilai kurang tepat, mengingat platform hanya mengikuti regulasi yang berlaku. Hal ini membuat sebagian komunitas melihat adanya kurangnya koordinasi internal dalam penerapan kebijakan, sekaligus menimbulkan kekhawatiran bahwa gamer justru menjadi pihak yang paling dirugikan.
Jika tidak segera diperbaiki, situasi ini bisa berdampak lebih luas, mulai dari pembatasan akses terhadap game populer hingga turunnya kepercayaan terhadap sistem regulasi itu sendiri. IGRS dan pemerintah perlu mengevaluasi ulang mekanisme penilaian yang ada agar lebih transparan, akurat, dan relevan dengan standar industri global, sehingga tujuan perlindungan pengguna bisa tercapai tanpa mengorbankan akses dan kebebasan bermain.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



