Jakarta, Gizmologi – Platform game global Roblox resmi mengadopsi sistem klasifikasi usia dari Indonesia Game Rating System untuk seluruh konten yang tersedia di Indonesia. Langkah ini diklaim sebagai upaya untuk memberikan panduan yang lebih jelas bagi pengguna, terutama orang tua, dalam memilih game yang sesuai.
Implementasi ini membuat setiap pengalaman di Roblox kini memiliki dua lapisan informasi: rating resmi IGRS dan label “Content Maturity” milik Roblox sendiri. Secara teori, pendekatan ini memberi transparansi lebih luas terhadap jenis konten yang tersedia.
Namun di tengah langkah ini, IGRS sendiri sedang berada di bawah sorotan. Sebelumnya, sistem rating ini menuai kritik karena dianggap tidak konsisten, terutama pada platform seperti Steam, di mana sejumlah game dinilai memiliki klasifikasi usia yang tidak sesuai dengan kontennya.
Baca Juga: TikTok Live Dukung Talenta Lokal, Luncurkan Mini Album Cece Caramel
Integrasi IGRS jadi Perlindungan atau Formalitas?

Dalam keterangan resminya, Roblox menyebut integrasi ini sebagai bagian dari komitmen menghadirkan ruang digital yang aman. Pengguna di Indonesia kini bisa melihat rating IGRS seperti 13+, 15+, atau 18+ langsung di halaman game, berdampingan dengan label deskriptif milik Roblox.
Pemerintah melalui Komdigi juga menyambut positif langkah ini, menilai bahwa penggunaan standar lokal bisa membantu orang tua memahami konten dengan lebih mudah. Apalagi, sistem ini juga didukung fitur tambahan seperti parental control dan estimasi usia pengguna.
Meski begitu, efektivitasnya masih menjadi tanda tanya. Dengan adanya dua sistem rating sekaligus, potensi kebingungan justru bisa muncul, terutama jika kedua label memberikan interpretasi berbeda terhadap satu konten yang sama.
Kredibilitas IGRS Masih Jadi PR
Di sisi lain, adopsi IGRS oleh platform sebesar Roblox justru bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, ini memperkuat legitimasi IGRS sebagai standar nasional. Namun di sisi lain, masalah kredibilitas yang belum sepenuhnya tuntas bisa ikut terbawa ke platform global.
Kritik yang muncul sebelumnya terhadap rating IGRS di Steam menunjukkan bahwa sistem ini masih perlu penyempurnaan, terutama dalam hal konsistensi dan akurasi penilaian konten. Jika tidak, pengguna berpotensi menerima informasi yang kurang relevan dengan pengalaman sebenarnya.
Roblox sendiri masih mempertahankan label “Content Maturity” sebagai acuan utama dalam mengatur akses konten. Ini bisa dilihat sebagai langkah mitigasi, mengingat sistem internal mereka sudah lebih dulu teruji secara global.
Pada akhirnya, integrasi ini memang terlihat seperti langkah maju dalam hal regulasi dan perlindungan pengguna. Namun tanpa perbaikan menyeluruh pada sistem rating itu sendiri, adopsi IGRS berisiko menjadi sekadar formalitas—alih-alih solusi nyata bagi ekosistem game di Indonesia.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



