Jakarta, Gizmologi – Proyek game terbaru berlatar Star Wars dari mantan petinggi BioWare mulai menunjukkan arah yang lebih jelas. Casey Hudson, sosok yang sebelumnya dikenal lewat seri Mass Effect, kembali membahas pengembangan Star Wars: Fate of the Old Republic dalam wawancara terbaru bersama Bloomberg.
Hudson sebelumnya sudah menjanjikan bahwa game ini akan meluncur sebelum 2030. Kini, ia mulai membocorkan filosofi desain yang digunakan untuk proyek tersebut, termasuk pendekatan berbeda terhadap durasi permainan modern yang belakangan semakin panjang.
Menurut Hudson, ukuran game tidak selalu menentukan kualitas pengalaman bermain. Ia bahkan secara terbuka mengkritik tren game open-world super panjang yang kini mendominasi industri, terutama ketika banyak judul membutuhkan ratusan jam hanya untuk menyelesaikan cerita utama.
Baca Juga: Forza Horizon 6 Ungkap Mode Performa dan Bonus Pemain Lama, Siap Rilis dalam Waktu Dekat
Casey Hudson Kritik Tren Game Terlalu Panjang

Dalam pernyataannya, Casey Hudson mengatakan dirinya kurang menyukai game dengan durasi berlebihan. Ia mencontohkan bagaimana game berdurasi 200 jam justru bisa terasa melelahkan, bahkan sebelum pemain benar-benar masuk ke inti cerita.
Sebagai gantinya, Fate of the Old Republic disebut akan fokus pada replayability dan jalur cerita alternatif. Artinya, pemain mungkin tidak akan mendapatkan pengalaman super panjang dalam satu playthrough, tetapi bisa kembali memainkan game untuk melihat perspektif atau keputusan berbeda.
Pendekatan ini cukup menarik di tengah tren industri saat ini. Banyak developer berlomba menghadirkan konten sebanyak mungkin demi meningkatkan engagement, tetapi tidak sedikit pemain yang mulai merasa kewalahan dengan game modern yang terlalu besar dan repetitif.
Tolak AI Generatif, Fokus ke Pengembangan Lebih Cepat
Selain membahas desain game Fate of the Old Republic, Hudson juga cukup vokal soal penggunaan AI generatif di industri game. Ia menyebut teknologi tersebut sebagai sesuatu yang “creatively soulless” dan memastikan timnya tidak akan mengandalkan AI generatif dalam proses desain maupun pengembangan game.
Pernyataan ini muncul di saat banyak studio mulai bereksperimen menggunakan AI untuk pembuatan dialog, aset visual, hingga quest procedural. Di satu sisi, AI memang bisa mempercepat produksi. Namun di sisi lain, kekhawatiran soal hilangnya sentuhan kreatif manusia juga semakin sering dibahas.
Menariknya, Hudson juga menegaskan bahwa timnya ingin menghindari siklus pengembangan game yang terlalu panjang hingga lima atau tujuh tahun. Dengan tambahan pendanaan dari perusahaan investasi baru milik mantan eksekutif NetEase, Simon Zhu, proyek Fate of the Old Republic tampaknya kini punya dukungan finansial yang cukup serius untuk mengejar target rilis sebelum akhir dekade ini.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



