Jakarta, Gizmologi – Whitepaper Indosat Business yang bertajuk ”A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience” diluncurkan belum lama ini, Selasa (12/5). Laporan ini merupakan hasil kolaborasi Indosat Business bersama dengan pakar cybersecurity, Dr. Ir. Charles Lim, M.Sc., B.Sc., CSAP, Security+, CySA+, ECDE, CND, CCSE, CTIA, CHFI, EDRP, ECSA, ECSP, ECIH, CEH, CEI.
Dalam whitepaper Indosat Business diungkapkan fenomena “resilience gap”, yaitu kondisi ketika laju transformasi digital berkembang jauh lebih cepat dibanding kesiapan organisasi dalam membangun ketahanan siber. Fenomena ini perlu dibahas karena terdapat risiko siber berkembang dengan skala dan kompleksitas yang semakin tinggi.
“Indonesia sedang memasuki fase baru ekonomi digital, namun pertumbuhan digital juga harus diiringi dengan ketahanan siber yang memadai. Hari ini, cyber resilience bukan lagi isu teknologi semata, tetapi fondasi kepercayaan dan keberlangsungan bisnis,” ujar Muhammad Buldansyah, Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison.
Baca Juga: Indosat Ooredoo Hutchison Gandeng NVIDIA, Hadirkan Teknologi Nemotron untuk Masyarakat Indonesia
Whitepaper Indosat Business Catat Peningkatan AI-related Fraud hingga 1.550%

Nilai ekonomi digital nasional diproyeksikan mencapai USD 340 miliar pada 2030, didorong oleh percepatan adopsi AI, cloud, IoT, fintech, dan sistem digital lintas industri. Di samping itu, Lanskap ancaman siber di Indonesia kini berkembang semakin kompleks seiring meningkatnya teknologi.
Whitepaper Indosat Business mencatat peningkatan AI-related fraud hingga 1.550% di sektor fintech Indonesia, termasuk penggunaan deepfake dan AI voice impersonation untuk penipuan berbasis identitas. Ancaman ransomware terhadap institusi strategis nasional juga terus meningkat, termasuk serangan terhadap pusat data nasional Indonesia pada 2024 yang mengganggu lebih dari 200 layanan publik.

Besarnya eksposur risiko tersebut turut berdampak pada kesiapan enterprise. Cisco Cybersecurity Readiness Index 2025 menunjukkan hanya 11% organisasi di Indonesia yang dinilai siap menghadapi ancaman keamanan siber modern, sementara rata-rata kerugian akibat kebocoran data di Indonesia dapat mencapai sekitar Rp15 miliar.
Di sisi lain, implementasi Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP) juga mendorong organisasi memperkuat kemampuan monitoring dan respons keamanan siber secara real time, termasuk memenuhi kewajiban pelaporan insiden dalam waktu 72 jam. Selain membahas strategi seperti Zero Trust Architecture dan Human Firewall, whitepaper Indosat Business ini juga mengulas tantangan ketahanan siber lintas sektor strategis Indonesia, termasuk finansial, manufaktur, pemerintahan, dan pendidikan, yang kini menghadapi eksposur risiko siber yang semakin tinggi seiring percepatan digitalisasi nasional.

Melalui whitepaper Indosat Business ini, perusahaan ingin mengajak pelaku industri untuk melihat ketahanan siber sebagai bagian integral dari strategi transformasi digital dan daya saing bisnis jangka panjang. Sebagai mitra transformasi digital enterprise, Indosat Business terus memperkuat perannya dalam membantu perusahaan membangun fondasi digital yang lebih aman.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



