Perkembangan Artificial Intelligence di Indonesia tergolong sangat cepat, dan tidak menutup kemungkinan juga bahwa bisnis sekelas UMKM saja akan memanfaatkan AI. Kini, sudah cukup banyak cakupan bisnis yang kian memanfaatkan Akal Imitasi, dan pelaku bisnis juga mengatakan bahwa ini menjadi awal yang siap untuk merubah berbagai cara kerja.
Selain dari talenta digital yang juga menjadi titik yang penting, pemerintahan juga wajib untuk mengetahui perkembangan AI di Indonesia, sehingga peran pemerintah bisa memberikan batasan dan dimanfaatkan untuk memutarkan roda perekonomian di sebuah negara. Maka dari itu, Stephen Braim sebagai Vice President Government and Regulatory Affairs, IBM Asia Pacific hadir untuk memberikan edukasi sekaligus pengenalan bagaimana cara IBM bisa membawa berbagai teknologi canggih ke Indonesia.
Pada kesempatan wawancara eksklusif ini, redaksi Gizmologi menanyakan bagaimana pandangan IBM terkait perkembangan AI di Indonesia, yang memang notabene-nya Indonesia merupakan negara yang sangat luas dan tidak hanya berpusat di Jakarta saja. Kemudian, bagaimana cara IBM membuat AI dan segala jenis teknologinya bisa diakses dengan mudah oleh masyarakat Indonesia dan pelaku bisnis, serta bagaimana IBM membuka jalan AI lewat pemerintah di Indonesia.
Baca Juga: CEPR Implementasikan IBM Maximo, Digitalisasi Operasional Pembangkit Listrik di Cirebon
Profil Stephen Braim

Stephen Braim merupakan sosok yang memiliki pengalaman panjang di bidang kebijakan publik, strategi teknologi informasi, hingga hubungan antar pemangku kepentingan di kawasan Asia Pasifik. Saat ini, ia memimpin tim public policy IBM di Asia Pasifik yang berfokus pada strategi dan kebijakan teknologi informasi, investasi, strategi masuk pasar, pengembangan bisnis, hingga relasi dengan stakeholder. Tidak hanya itu, Braim juga memegang peran global sebagai market support leader IBM yang membawahi tim di berbagai kawasan seperti Eropa, Asia, Amerika Latin, Amerika Utara, hingga Timur Tengah dan Afrika.
Di IBM, Stephen Braim juga memiliki tanggung jawab penting terkait regulasi ekspor Amerika Serikat untuk kawasan Asia Pasifik, sekaligus menjadi Chair dari IBM Sensitive Transactions Council. Sebelum bergabung dengan IBM pada 1998, ia pernah menjabat sebagai Manager of Regulatory Affairs di New T&T Hong Kong. Kariernya sendiri dimulai di pemerintahan negara bagian Victoria, Australia, tepatnya di Department of Premier and Cabinet, yang menjadi fondasi kuat bagi pengalamannya di bidang regulasi dan kebijakan publik.
Selain aktif di dunia korporasi, Braim juga memiliki rekam jejak yang cukup kuat di bidang akademik dan organisasi internasional. Ia pernah menjadi Senior Research Fellow di Centre for International Research on Communication and Information Technologies (CIRCIT), serta menjadi staf pengajar di Department of Economics, University of Melbourne. Di luar itu, ia juga pernah duduk di berbagai dewan organisasi, termasuk National Press Club of Australia, Thai Life Sciences Centre of Excellence di Bangkok, hingga US/Asean Business Council di Washington D.C. Saat ini, Braim juga tercatat sebagai state counsellor untuk Australian Industry Group (AiG) dan Presiden Mornington Peninsula Aero Club di Victoria.
Kita tahu bahwa Indonesia saat ini sedang memfinalisasi roadmap AI nasional dan kerangka etika AI. Dari perspektif regional, seberapa penting momen ini bagi daya saing digital Indonesia, dan bagaimana dampaknya terhadap posisi Indonesia di lanskap AI Asia Tenggara?
Pemerintah bergerak cepat untuk memperkuat kendali atas data, infrastruktur kritikal, dan teknologi baru. Gartner® memproyeksikan bahwa pada 2028, sekitar 65% pemerintah di dunia akan menerapkan kebijakan terkait kedaulatan teknologi, guna meningkatkan kemandirian sekaligus melindungi dari intervensi regulasi lintas negara.
Ini adalah momen yang sangat menentukan bagi Indonesia. Kita melihat pergeseran dari eksperimen AI yang sebelumnya masih berjalan secara terpisah-pisah menuju strategi nasional yang lebih jelas, dan ini mengubah segalanya. Investor global saat ini mencari pasar yang tidak hanya menawarkan inovasi, tetapi juga kepastian.
Dari perspektif IBM, Indonesia sudah berada pada keseimbangan yang tepat. Ini adalah timing yang sangat relevan dan akan membantu meningkatkan kepercayaan pasar terhadap pengembangan serta adopsi AI, karena di satu sisi melindungi masyarakat melalui guardrails yang tepat, namun di sisi lain tetap memberi ruang bagi inovasi untuk berkembang.
Seberapa penting peran regulatory sandbox atau lingkungan uji coba terkontrol dalam mempercepat adopsi AI di Indonesia, khususnya untuk teknologi baru yang belum sepenuhnya terakomodasi dalam regulasi yang ada?
Sandbox memiliki peran yang sangat krusial, terutama dalam konteks AI. Kita tidak bisa sepenuhnya melihat semua risiko dari sistem AI hanya melalui pengujian di laboratorium. Sistem tersebut perlu diamati dalam kondisi dunia nyata, tentunya melalui proses adopsi yang aman dan terkontrol.
Indonesia sendiri sudah memiliki pengalaman dalam penerapan sandbox di sektor fintech, dan ini merupakan keunggulan besar. Jika pendekatan ini diperluas ke sektor seperti kesehatan, keuangan, serta layanan publik dan pemerintahan, maka sandbox menjadi sangat penting untuk menguji ide- ide baru sebelum diimplementasikan secara luas.
Bagi perusahaan seperti IBM, sandbox yang dikelola dengan baik memungkinkan kolaborasi yang erat dengan regulator, mulai dari menguji solusi, menyediakan tools, hingga merancang mekanisme perlindungan bersama sebelum solusi diluncurkan. Karena itu, peran sandbox sangat krusial
Apa tantangan terbesar Indonesia dalam mempercepat adopsi AI dibandingkan negara lain di Asia Pasifik?
Tantangan pertama adalah talenta. Pengambilan keputusan tetap harus berpusat pada manusia, karena AI tidak dapat menggantikan aspek seperti judgment, kreativitas, dan empati. Studi IBM menunjukkan sekitar 35% tenaga kerja di Indonesia perlu melakukan reskilling dalam tiga tahun ke depan. Kementerian Komunikasi dan Digital juga memperkirakan kebutuhan talenta digital mencapai 435 ribu per tahun.
Tantangan kedua adalah infrastruktur, dan ini memerplihatkan bagaimana memastikan akses yang merata di seluruh wilayah Indonesia agar tidak terjadi kesenjangan digital.
Tantangan ketiga adalah kesiapan data. Selain itu, kurang dari 1/4 total data perusahaan benar- benar dimanfaatkan untuk AI, dan hanya sekitar 7 persen yang dinilai siap pakai. Hal ini menunjukkan bahwa data adalah fondasi utama dalam adopsi AI.
Tantangan keempat adalah regulasi, oleh karena itu dengan regulasi tentang AI ini sangat tepat waktu. Secara keseluruhan, talenta dan regulasi menunjukkan progres, sementara kesiapan data dan infrastruktur masih menjadi area yang perlu terus diperkuat.
Bagaimana IBM memastikan pengembangan talenta digital dapat berjalan lebih merata di Indonesia, mengingat wilayah Indonesia yang sangat luas dan peluang yang tidak boleh terpusat hanya di Jakarta?
IBM SkillsBuild tersedia secara online dan dapat diakses secara gratis, sehingga siapa pun, di mana pun, dapat menggunakannya. Selain itu, program seperti Dicoding dan Hacktiv8 juga hadir tidak hanya di Jakarta, tetapi menjangkau berbagai wilayah lain di Indonesia.
IBM juga menyediakan konten pembelajaran dan sertifikasi tanpa biaya. Melalui platform ini, IBM berkomitmen untuk melatih lebih banyak individu di bidang AI, sehingga mereka dapat memperoleh sertifikasi yang diakui secara industri. Program ini tersedia secara nasional, dan IBM bekerja sama dengan berbagai universitas serta mitra untuk memastikan aksesnya dapat menjangkau lebih luas dan inklusif.
Mengingat platform ini berbasis online, bagaimana hal ini membantu memperluas akses di luar Jakarta, dan bagaimana kolaborasi dengan universitas mendukung hal tersebut?
Sebagai bagian dari komitmen IBM untuk memberikan pelatihan AI gratis kepada 2 juta pembelajar di seluruh dunia hingga tahun 2026, kami bekerja sama dengan berbagai organisasi dan universitas untuk membangun kapasitas AI melalui penyediaan kurikulum dan sumber daya bagi pengajar maupun mahasiswa, guna menciptakan tenaga kerja yang siap menghadapi era AI.
Melalui inisiatif IBM SkillsBuild, IBM menghadirkan pendidikan berbasis pengetahuan terkini, sertifikasi kompetensi sesuai kebutuhan peran kerja, serta dukungan berkelanjutan terhadap pengembangan keterampilan profesional yang relevan dengan industri.
Platform ini juga menyediakan konten pembelajaran dan sertifikasi secara gratis, termasuk tools berbasis proyek, metode pembelajaran terintegrasi, serta software kelas enterprise untuk memberikan pengalaman belajar yang komprehensif.
Seberapa penting peran pengawasan manusia dalam sistem AI, terutama di sektor seperti keuangan, kesehatan, dan layanan publik yang membutuhkan akuntabilitas tinggi?
AI adalah alat yang sangat kuat untuk mengolah data dan menghasilkan insight, namun peran manusia tetap krusial untuk memastikan integritas, etika, dan pengambilan keputusan akhir. AI tidak dirancang untuk mengambil keputusan secara end-to-end tanpa keterlibatan manusia.
Di sektor seperti kesehatan, AI tidak akan menggantikan dokter. AI dapat membantu dalam tugas dengan risiko lebih rendah, tetapi untuk keputusan yang berdampak besar, peran manusia tetap tidak tergantikan.
Di IBM, dalam konteks HR misalnya, AI digunakan untuk membantu analisis dan pengolahan data dalam jumlah besar, namun keputusan akhir tetap berada di tangan manajer. Hal ini juga penting karena aspek seperti judgment, kreativitas, dan empati tidak dapat digantikan oleh AI.
Di Indonesia, terdapat regulasi dari OJK (POJK) yang menegaskan bahwa penggunaan AI dalam sektor keuangan harus tetap berada di bawah pengawasan manusia, dengan akuntabilitas yang jelas dalam setiap proses pengambilan keputusan.
Bagaimana IBM melihat arah perkembangan AI di Indonesia ke depan, mengingat banyaknya sektor bisnis yang ada?
Dalam beberapa tahun terakhir, IBM telah memperkuat kapabilitasnya untuk mendukung
perkembangan pasar di Indonesia. Dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5% per tahun dan status sebagai negara G20, Indonesia memiliki fondasi yang sangat kuat.
Selain itu, Indonesia memiliki populasi muda yang dinamis serta banyak perusahaan mitra yang potensial. Kami melihat prospek adopsi AI di Indonesia sangat positif, dan peran IBM dalam mendukung transformasi digital di Indonesia akan semakin didorong oleh AI.
Secara keseluruhan, kombinasi pertumbuhan ekonomi yang stabil, demografi yang kuat, dan ekosistem bisnis yang berkembang menjadi faktor utama yang akan mempercepat adopsi AI di masa depan.
Sebagai penutup, bagaimana Anda merangkum kunjungan Anda ke Indonesia, terutama setelah berdiskusi dengan pemerintah terkait regulasi AI yang akan datang?
secara keseluruhan, Indonesia telah berada di jalur yang tepat dalam memaksimalkan peluang Agentic AI, baik bagi masyarakat maupun sektor swasta. Dalam diskusi dengan pemerintah, salah satu topik utama adalah kedaulatan data.
Penting untuk memahami bahwa kedaulatan data bukan sekadar soal lokalisasi, tetapi tentang bagaimana pemilik data memiliki kendali atas keseluruhan sistem dan infrastruktur mereka.
Pendekatan ini penting untuk mendukung inovasi, kepercayaan, dan pertumbuhan ekonomi. Kami melihat pemerintah memiliki pemahaman yang konstruktif terhadap isu ini, dan diskusi yang terjadi sangat positif.
Selain itu, kami juga membahas potensi pengembangan quantum computing di masa depan. Dua tahun lalu, IBM memprediksi bahwa AI akan menjadi topik utama, dan itu terbukti hari ini. Ke depan, kami melihat quantum computing telah menjadi topik besar berikutnya
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



