Jakarta, Gizmologi – Google belum lama ini memperkenalkan Gemini Intelligence, fitur AI baru yang tampaknya jauh lebih ambisius dibanding sekadar chatbot biasa. Teknologi ini diklaim mampu menjalankan tugas multi-step secara otomatis di background, mulai dari mencari informasi, mengolah data, hingga berinteraksi dengan aplikasi dan website tanpa campur tangan pengguna secara langsung.
Salah satu fitur yang cukup mencuri perhatian adalah “Rambler” di Gboard. Fitur ini memungkinkan pengguna berbicara lebih natural, lengkap dengan filler words atau bahkan mencampur beberapa bahasa dalam satu kalimat. Pendekatannya terasa mirip percakapan manusia biasa, bukan lagi sekadar input formal seperti AI assistant generasi sebelumnya.
Namun di balik kemampuan tersebut, ada satu hal yang mulai terlihat jelas: Gemini Intelligence tampaknya bukan fitur untuk semua perangkat Android. Gemini Intelligence diam-diam menetapkan standar hardware yang cukup tinggi, membuat teknologi ini sementara hanya bisa dinikmati segelintir smartphone flagship.
Baca Juga: Tecno Pova 8 Pro Muncul di Sertifikasi, Siap Bawa Baterai 6.500mAh & Varian 12GB RAM
RAM 12GB dan Chip Flagship Jadi Syarat

Berdasarkan catatan kecil di situs resmi Android, Gemini Intelligence membutuhkan setidaknya RAM 12GB dan dukungan Gemini Nano v3 melalui layanan AICore Android. Itu artinya, banyak smartphone kelas menengah bahkan flagship lama kemungkinan tidak kompatibel.
Selain RAM besar, perangkat juga diwajibkan memakai chipset flagship tertentu, mendukung Android Virtualization Framework (AVF), pKVM, serta memenuhi standar kualitas performa dan stabilitas yang ditetapkan Google. Menariknya lagi, Google juga meminta vendor menjamin lima kali update Android dan enam tahun security patch.
Untuk saat ini, fitur tersebut diperkirakan akan debut di Samsung Galaxy Z Fold8 dan Z Flip8, lalu menyusul ke Galaxy S26 series dan Pixel 10 series musim panas nanti. Artinya, Google memang sedang memosisikan Gemini Intelligence sebagai fitur premium, bukan fitur Android umum.
AI Canggih, Tapi Berpotensi Jadi Eksklusif
Di satu sisi, pendekatan ini cukup masuk akal. AI on-device memang membutuhkan resource besar, apalagi jika sebagian proses dijalankan langsung di perangkat tanpa bergantung penuh ke cloud. Dengan spesifikasi tinggi, pengalaman penggunaan tentu bisa lebih stabil dan responsif.
Namun di sisi lain, syarat hardware yang terlalu ketat juga bisa membuat fragmentasi Android semakin terasa. Bahkan rumor terbaru menyebut Pixel 11 non-Pro mungkin hanya dibekali RAM 8GB. Jika benar, muncul pertanyaan besar: apakah lini Pixel biasa justru tidak mendapat fitur AI andalan Google sendiri?
Situasi ini menunjukkan bahwa era AI smartphone kemungkinan akan berjalan mirip seperti transisi teknologi sebelumnya. Fitur paling canggih hadir lebih dulu di perangkat premium, sementara pengguna kelas menengah harus menunggu generasi berikutnya agar teknologi tersebut menjadi lebih terjangkau dan merata.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



