Jakarta, Gizmologi – Laporan terbaru yang dikemukakan oleh IBM mengatakan bahwa sudah sebanyak 80% CEO di Indonesia mengaku bahwa pengaruh AI berhasil untuk mengubah cara perusahaan bekerja. Bahkan, sebagian besar dari mereka juga setuju bahwa hadirnya AI di Indonesia bisa memberikan dampak yang positif dalam menjalankan pekerjaan dan kegiatan sehari-hari. Baik untuk individu atau kepentingan perusahaan.
Artificial Intelligence atau AI kini tidak lagi sekadar menjadi proyek eksperimen di perusahaan besar. Studi terbaru IBM menunjukkan teknologi tersebut mulai masuk ke level yang lebih strategis, termasuk memengaruhi cara CEO mengambil keputusan dan menyusun struktur organisasi perusahaan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa AI mulai bergerak dari sekadar alat bantu otomatisasi menuju fondasi baru dalam operasional bisnis. Namun di sisi lain, adopsi AI yang semakin agresif juga memunculkan tantangan baru, mulai dari kesiapan talenta hingga tata kelola dan kontrol pengambilan keputusan berbasis AI.
AI Mulai Masuk ke Level Kepemimpinan

Salah satu temuan menarik dari studi IBM adalah tingginya tingkat kepercayaan CEO terhadap AI. Sebanyak 65% CEO di Indonesia mengaku nyaman mengambil keputusan strategis besar berdasarkan masukan yang dihasilkan AI.
IBM juga mencatat bahwa peran baru seperti Chief AI Officer (CAIO) mulai semakin penting. Secara global, sekitar 70% organisasi kini sudah memiliki posisi tersebut pada 2026, naik drastis dibanding tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa AI tidak lagi hanya menjadi tanggung jawab tim IT, tetapi mulai masuk ke level kepemimpinan tertinggi perusahaan.
Namun implementasi AI ternyata belum sepenuhnya matang. Meski 80% CEO percaya karyawan mereka siap berkolaborasi dengan AI, nyatanya baru sekitar 26% tenaga kerja yang menggunakan AI secara rutin dalam pekerjaan sehari-hari. Gap ini memperlihatkan bahwa transformasi AI masih menghadapi tantangan adopsi di level operasional.
Talenta dan Tata Kelola Jadi Tantangan Berikutnya
IBM juga menyoroti bagaimana AI akan mengubah struktur organisasi dalam beberapa tahun ke depan. Sebanyak 95% eksekutif yang disurvei mengaku mulai mendesentralisasi pengambilan keputusan karena peran AI yang semakin besar di berbagai lini bisnis.
Di sisi lain, ketergantungan terhadap AI memunculkan kebutuhan baru soal governance dan kontrol. Para CEO memperkirakan pada 2030 sekitar 48% keputusan operasional berbasis aturan akan sepenuhnya ditangani AI tanpa campur tangan manusia.
Karena itu, isu pengembangan talenta menjadi semakin penting. Sebanyak 75% CEO Indonesia menilai keberhasilan AI lebih ditentukan oleh tingkat adopsi manusianya dibanding teknologinya sendiri. IBM bahkan memperkirakan sekitar 30% pekerja perlu mempelajari skill baru dalam dua tahun ke depan agar tetap relevan di era kerja berbasis AI.
Bagi banyak perusahaan, AI kini bukan lagi sekadar tren teknologi. Tantangan berikutnya justru ada pada bagaimana organisasi membangun keseimbangan antara otomatisasi, pengawasan manusia, dan kesiapan sumber daya yang menjalankannya.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



