Jakarta, Gizmologi – Canva resmi meluncurkan Canva Code 2.0 secara umum di Indonesia pada 17 Juli 2026, memungkinkan siapa pun membuat website interaktif, kuis, learning hub, halaman booking, formulir pendaftaran, hingga gim edukasi hanya dengan menjelaskan apa yang mereka inginkan. Fitur ini tersedia bagi semua pengguna Canva Gratis, Business, Perusahaan, dan Pendidikan sebagai tipe desain baru di Aplikasi Visual Canva. Tidak perlu kemampuan teknis, tidak perlu menulis satu baris kode pun.
Canva Code 2.0 pertama kali diperkenalkan di Canva Create 2026 sebelum akhirnya tersedia luas. Pengguna bisa memulai dari sebuah prompt teks, template Canva, atau bahkan file HTML yang sudah ada dari platform lain, lalu langsung mengeditnya secara visual menggunakan editor drag-and-drop yang sudah familiar. Kit Merek, penyesuaian warna dan font, penggantian gambar dari pustaka konten Canva, hingga penyempurnaan menggunakan AI Canva semuanya tersedia dalam satu antarmuka yang sama.
“Selama lebih dari satu dekade, Canva telah membantu membuat desain menjadi lebih mudah dan dapat diakses oleh semua orang. Melalui Canva Code 2.0, kami menghadirkan kemudahan yang sama dalam pembuatan kreasi interaktif,” ujar Stefani Herlie, Country Manager Indonesia Canva. Ia juga menambahkan bahwa hambatan kemampuan teknis selama ini menjadi penghalang nyata bagi pendidik, pelaku usaha, kreator, dan marketer di Indonesia yang ingin menghadirkan pengalaman digital lebih menarik, dan Canva Code 2.0 dirancang untuk menghilangkan hambatan itu sepenuhnya.
Penggunaan Canva Code di Indonesia sudah mulai terasa bahkan sebelum versi 2.0 ini diluncurkan. Ribuan guru memanfaatkan Canva Code lewat Hackathon Rumah Pendidikan 2025 yang diselenggarakan Pusdatin, Kemendikdasmen, untuk menciptakan gim edukasi interaktif dan sumber belajar digital bagi siswa. Salah satunya adalah Irwan Taufiqurrahman, S.Pd.Gr., guru SD Negeri 5 Cakranegara, Lombok, yang mengembangkan gim pembelajaran adaptif untuk menyesuaikan tingkat kesulitan soal dengan kemampuan setiap murid, menghasilkan pengalaman belajar yang lebih personal dan inklusif di kelasnya.
Baca juga: Canva AI 2.0 Resmi Meluncur, Ingin Jadi Pusat Kerja Digital Bukan Sekadar Aplikasi Desain
Canva Code 2.0 dan Perluasan Visi AI Canva yang Lebih Besar

Canva Code 2.0 bukanlah produk instan yang datang tiba-tiba dalam pembaruan versi sederhana, ia adalah bagian dari visi jangka panjang Canva untuk memberdayakan siapa pun agar mampu berkreasi lebih luas. Dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan membuat pengguna dapat mengelaborasikan ideya lebih mudah. Saat ini berbagai produk AI Canva sudah digunakan lebih dari 32 miliar kali, dan lebih dari 500 juta desain telah dibuat menggunakan AI Canva. Sejak pertama kali diluncurkan, pengguna juga sudah membuat dan memublikasikan lebih dari enam juta website menggunakan Canva Code.
Angka-angka itu bukan sekadar statistik pemasaran. Proses pembuatan kode di Canva Code 2.0 kini 75 persen lebih cepat dibandingkan saat pertama kali diluncurkan, sementara rata-rata waktu dari pembuatan kode hingga website siap dipublikasikan berkurang hingga 30 persen. Canva jelas sedang mendorong batas antara platform desain dan platform pembuat aplikasi web, dua kategori yang selama ini berdiri terpisah dengan kurva belajar yang berbeda jauh.
Arah ini terlihat dari cara Canva membangun ekosistemnya: dari presentasi, whiteboard, dan sheet, kini meluas ke website interaktif dan pengalaman digital yang sepenuhnya fungsional. Untuk pelaku usaha, UMKM kini bisa membangun katalog produk interaktif atau microsite promosi sendiri tanpa bergantung pada developer. Tim juga bisa berkolaborasi secara real-time di dalam Canva, memberikan komentar, meninjau desain bersama, lalu mempublikasikannya langsung lewat domain khusus atau lingkungan organisasi yang aman, semua dalam satu platform.
Langkah Canva mengintegrasikan AI generatif ke dalam alur kerja desain yang sudah familier adalah taruhan besar yang tampaknya berhasil, setidaknya dari sisi adopsi. Dengan Canva Code 2.0 kini tersedia gratis untuk semua tier pengguna di Indonesia, pertanyaannya bukan lagi soal akses, tapi seberapa jauh pengguna berani memanfaatkan kemampuannya.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

