Jakarta, Gizmologi – Tren penipuan digital sepertinya tak lekang oleh waktu, menurut data Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) OJK lebih dari 432 ribu laporan penipuan digital sepanjang November 2024 hingga Januari 2026, dengan total kerugian mencapai sekitar Rp 9,1 triliun. Hal ini diungkap dalam acara Executive Policy Forum Kolaboratif Penanganan Fraud dan Scam Digital yang diselenggarakan oleh Asosiasi Digitalisasi dan Keamanan Siber Indonesia (ADIGSI).
Ketua Umum ADIGSI, Firlie Ganinduto, dalam sambutannya menyampaikan penipuan digital merupakan salah satu ancaman bagi ketahanan siber Indonesia di tengah perkembangan digital yang masif. Ancaman ini bisa diselesaikan dengan kolaborasi antara regulator.
“Perkembangan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, teknologi ini memudahkan manusia, namun di sisi lain teknologi ini juga dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk mencari keuntungan. Oleh karena itu, kolaborasi antara regulator dan sektor swasta menjadi kunci dalam memperkuat keamanan siber sekaligus meningkatkan edukasi pengguna,” ujar Firlie.
Baca Juga: Bahaya Scam Naik Jelang THR, VIDA Jalankan Kampanye “Jangan Asal Klik” Demi Cegah Penipuan Digital
BSSN Ungkap Adanya 5,2 Anomali Berpotensi Penipuan Digital

Selain temuan dari OJK, Deputi Bidang Keamanan Siber & Sandi Perekonomian BSSN, Slamet Aji Pamungkas, menambahkan selama periode Januari sampai dengan 15 November 2025 terdapat hampir sekitar 5,2 miliar anomali traffic, dengan 93,78% di antaranya berupa malware yang berpotensi menjadi ransomware. Temuan ini menggambarkan bagaimana potensi-potensi serangan siber di Indonesia sangat besar.
“Melalui Perpres No. 47 Tahun 2023 tentang Strategi Keamanan Siber Nasional dan Manajemen Krisis Siber, kami menggandeng para penyelenggara negara, pelaku usaha, akademisi, dan komunitas, untuk mewujudkan keamanan dan pertahanan siber, melindungi ekosistem perekonomian digital sebagai tulang punggung ekonomi nasional, serta meningkatkan kekuatan dan kapabilitas keamanan siber nasional,” ungkap Slamet.

AdaKami yang ikut menjadi bagian dalam diskusi mengatakan ikut membantu dalam memberikan edukasi kepada pengguna. Forum ini merupakan salah satu langkah nyata AdaKami dalam memperkuat kolaborasi pencegahan fraud digital.
Dalam operasionalnya, AdaKami terus memperkuat sistem keamanan untuk melindungi platform dari potensi serangan siber melalui pemanfaatan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dan big data, termasuk pemantauan risiko secara berkelanjutan serta deteksi aktivitas mencurigakan. Untuk melindungi akun pengguna, AdaKami menerapkan proses electronic Know Your Customer (e-KYC) dengan fitur liveness detection sebagai bagian dari verifikasi identitas, selain berbagai fitur keamanan lain sesuai standar industri.

Selain itu, AdaKami juga menghadirkan kampanye #SelaluWaspada, meningkatkan literasi dalam menjaga data pribadi, mengenali ciri penipuan, pinjol ilegal, serta melakukan verifikasi informasi hanya melalui kanal resmi dan sumber terpercaya. Melalui upaya ini, AdaKami juga mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam bertransaksi digital serta menghindari bantuan dari pihak yang tidak dikenal guna menghindari potensi penipuan.
“Fraud dan scam digital merupakan isu industri dan tanggung jawab bersama. AdaKami sebagai salah satu perusahaan pindar berkomitmen memperkuat pelindungan konsumen melalui pengembangan sistem keamanan berbasis teknologi dan edukasi berkelanjutan, agar pengguna terlindungi dari berbagai modus sekaligus meningkatkan kepercayaan terhadap layanan digital,” jelas Chief of Public Affairs AdaKami, Karissa Sjawaldy.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



