Implementasi AI memang kini semakin beragam, mulai dalam aktivitas harian baik mendukung produktivitas, hingga merambah dunia edukasi sembari dipadukan bersama teknologi digital lainnya. Salah satu ruang publik berbasis digital yang berlokasi di Jakarta, Galeri Indonesia Kaya, baru saja menerapkan AI dalam tingkat lebih jauh, melalui pameran imersif “Purwacarita Borobudur” yang digelar mulai pekan ini (1/9).
Ya, sebelumnya Galeri Indonesia Kaya (GIK) telah menghadirkan pengalaman imersif tentang Basoeki Abdullah yang dipadukan bersama sejumlah kisah cerita rakyat Indonesia sebagai pelengkap. Kini memanfaatkan ethical AI, digelar tema baru yakni Purwacarita Borobudur: Jelajah Sejarah dalam Ruang dan Rasa. Mengajak seluruh pengunjung untuk menelusuri kisah-kisah di balik asal mula penciptaan Candi Borobudur, digelar sepenuhnya gratis.
Renitasari Adrian, Program Director Galeri Indonesia Kaya mengatakan bila pihaknya berkomitmen untuk terus memperkenalkan dan melestarikan kekayaan budaya Indonesia melalui cara yang lebih kekinian serta menyenangkan. “Melalui Purwacarita Borobudur, kami menghadirkan kembali kisah dan sejarah Borobudur melalui pengalaman imersif berbasis ethical AI dan kolaborasi lintas disiplin. Kami ingin sejarah tidak hanya dipelajari, tetapi juga dapat dirasakan dan dieksplorasi dengan cara yang lebih dekat dengan generasi masa kini.”
Baca juga: Laporan Salesforce: Penggunaan Agentic AI Melonjak dalam Satu Tahun Terakhir
Tetap Mengutamakan Akurasi, AI Hanya Sebagai Alat Bantu

Menghadirkan pengalaman yang lebih imersif, GIK mencoba untuk mengenal dan memahami kisah di balik terbangunnya Candi Borobudur, mulai dari asal mula pembangunannya, tokoh-tokoh di baliknya, serta pesan yang tertuang di balik ribuan panel relief pada candi tersebut. Menggandeng Curaweda, Purwacarita Borobudur menampilkan riset dan fakta sejarah yang sudah tervalidasi. Sekaligus menerapkan ethical AI dalam pengembangannya.
Penerapan tersebut diaplikasikan ke dalam proses penerjemahan riset dan fakta, menjadi pengalaman yang lebih imersif, termasuk dalam bentuk audio visual. Sehingga meski dimanfaatkan sebagai alat bantu visualisasi, apa yang ditampilkan lewat Purwacarita Borobudur, memiliki akurasi sejarah yang menjadi landasan utama karya di dalamnya. Didapatkan dari berbagai sumber berbeda yang sudah berhasil melalui proses kurasi hingga penyuntingan.

Mulai dari Prasasti Karangtengah (824M) hingga penggambaran busana maupun artefak, setiap naskah dan visual yang ditampilkan telah melewati validasi akademik oleh Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, serta validasi profesional oleh Museum dan Cagar Budaya. Tim kreatif di balik terselenggaranya Purwacarita Borobudur juga turut melakukan kunjungan lapangan ke Borobudur sebagai rujukan visual.
Azhar Muhammad Fuad, founder dan CEO Curaweda menambahkan bila pihaknya memperlakukan AI sebagai kuas, dan tetap menggunakan fakta sejarah yang sudah divalidasi oleh para ahli sebagai kanvas utama. “Melalui Purwacarita Borobudur, kami ingin menunjukkan bahwa AI dapat digunakan secara etis untuk memperkuat riset sekaligus menghadirkan kekayaan budaya Nusantara dalam cara yang lebih dekat dengan generasi muda.”
Purwacarita Borobudur Ajak Pengunjung Untuk Pelajari Sejarah Lebih Interaktif

Menghadirkan sebuah pengalaman perjalanan utuh, Purwacarita Borobudur bisa dinikmati oleh semua pengunjung Galeri Indonesia Kaya, digelar hingga bulan Desember 2026 mendatang, dan tidak dipungut biaya alias sepenuhnya gratis. Secara total, ada delapan fitur yang siap membawa para pengunjung untuk dapat mengenal Candi Borobudur secara lebih menyeluruh.
Mulai dari “Sapa Borobudur” yang menjadi pengantar visual terkait latar zaman berdirinya Borobudur, “Batu Carita” yang siap membawa pengunjung berinteraksi dengan empat tokoh (Raja Samaratungga, Putri Pramodhawardhani, Sudhana, dan Manohara), “Jelajah Borobudur”, hingga “Asal Mula Borobudur The Movie” yang tidak hanya menerapkan ethical AI, juga memakan proses penciptaan hingga empat bulan hingga akhirnya sesuai dengan standar validasi kedua pihak yang sudah disebutkan sebelumnya.
Dan karena bersifat imersif, pameran Purwacarita Borobudur memberikan ruang bagi pengunjung untuk berinteraksi secara langsung, termasuk melalui sensor gerak, hingga permainan dengan layar informasi interkatif. Menjadikan pameran ini sebagai hasil kolaborasi lintas disiplin yang mempertemukan perspektif budaya, riset, teknologi, dan pengembangan bisnis.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

