alexa

Riset: Hanya 20% UMKM yang Miliki Literasi Digital Memadai

Jakarta, Gizmologi – Kolaborasi multisektoral untuk memberdayakan Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) sangat diperlukan untuk mengakselerasi pemulihan ekonomi serta mencapai pertumbuhan ekonomi inklusif di Indonesia. Hal tersebut didukung oleh hasil temuan riset “Digitalisasi UMKM – Kunci Pertumbuhan Inklusif Perekonomian Indonesia” yang baru diluncurkan oleh Blibli bersama Harian Kompas dan Boston Consulting Group (BCG).

Riset tersebut mempelajari perkembangan mitra UMKM Blibli untuk mendapatkan potret terkini dari sektor UMKM. Termasuk aneka tantangan yang dihadapi UMKM serta kesempatan yang dihadirkan oleh teknologi digital, terutama e-commerce.

Haikal Siregar, President Director PT Boston Consulting Indonesia, menyatakan bahwa multiplier effectyang dihasilkan oleh digitalisasi UMKM pada akhirnya akan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi inklusif Indonesia di masa depan. Riset merekam bahwa UMKM online, dalam mengoptimalkan kapasitas usaha, mempekerjakan 1,4 kali lebih banyak orang dibanding UMKM offline.

“Peningkatan digital literacy UMKM hingga menyentuh 50% akan berdampak pada pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dengan nilai yang diperkirakan sebesar US$ 38 miliar. Selain menghadirkan kanal penjualan, teknologi digital juga membantu UMKM dengan memperluas akses ke permodalan karena data dari platform digital dapat digunakan sebagai insights saat merancang program peminjaman yang sesuai dengan sektor tersebut,” tambah Haikal.

Baca juga: GoTo Financial Hadirkan KONTAG Solusi UMKM untuk Tingkatkan Peluang Bisnis

Adopsi Teknologi di UMKM

ilustrasi smartphone aplikasi perpanjang SIM
Foto: Unsplash/Paul-hanaoka

Salah satu temuan menarik adalah pemanfaatan teknologi digital di kalangan UMKM. BE Satrio, Peneliti Litbang Kompas mengatakan bahwa mayoritas UMKM sudah memahami pentingnya teknologi digital, di mana 74% dari UMKM yang disurvei telah familiar dengan kehadiran e-commerce.

“Hanya 20% (pelaku UMKM) yang memiliki literasi digital memadai untuk memanfaatkan teknologi secara optimal. Terbatasnya literasi digital berakar dari berbagai sumber seperti kurangnya akses ke perangkat teknologi dan pendanaan,” ujar Satrio.

Menurutnya, meningkatkan literasi digital pun membutuhkan pendekatan multisektoral. Semua pihak juga selayaknya bahu-membahu karena digitalisasi UMKM akan menciptakan multiplier effect yang membawa balik manfaat ke seluruh sektor ekonomi.

“UMKM yang sudah go online menghasilkan pendapatan 1,1 kali lebih tinggi dibanding yang offline dan penghasilan yang lebih baik ini memungkinkan UMKM online untuk semakin memperluas bisnis, dengan demikian menyerap lebih banyak sumber daya,” imbuhnya.

Meningkatkan literasi digital, atau digital literacy, UMKM sangat krusial karena teknologi akan mempertebal kemampuan mereka untuk melampaui tantangan dalam berbisnis, khususnya yang dihadirkan oleh pandemi dalam bentuk penurunan penjualan, penyusutan sumber permodalan, dan penyumbatan jalur distribusi.

Penting Kolaborasi Multisektoral Bagi UKM

Blibli Histeria 10.10

Sementara itu Kusumo Martanto, CEO Blibli, mengatakan bahwa sebagai perusahaan e-commerce, pihaknya telah mendukung lebih dari 130 ribu UMKM, telah menyaksikan bagaimana setiap UMKM telah menciptakan value chain yang berharga bagi ekonomi.

“Di hulu, UMKM menyerap hasil produksi para penyedia bahan mentah. Kemudian, UMKM membuka lapangan kerja bagi komunitas sekitar saat proses pembuatan produk dan pengoperasian bisnis. Lalu di hilir, mereka memunculkan kesempatan usaha baru bagi distributor dan pedagang eceran yang membawa produk UMKM ke pasar-pasar di seluruh Indonesia,” ujar Kusumo di Jakarta (27/8).

Riset menunjukkan bahwa 77% dari responden UMKM mempekerjakan orang-orang dari komunitas mereka, di mana satu UMKM dapat memunculkan hingga 5 kesempatan di lapangan kerja setempat. Temuan tersebut menekankan peran penting yang dimainkan UMKM bagi ekonomi Indonesia yang inklusif.

Maka itu, sangat tepat bagi semua sektor untuk berkolaborasi untuk menjaga keberlangsungan UMKM terutama di tengah pandemi. “Hal ini juga yang mendorong Blibli untuk selalu bekerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah hingga institusi keuangan, dalam menjalankan inisiatif pemberdayaan UMKM, termasuk pelatihan digital entrepreneurship,” imbuh Kusumo.

Selama 10 tahun, Blibli memberikan pendampingan intensif bagi UMKM melalui berbagai cara, mulai dari program mentorship dengan ahli pemasaran hingga kelas pelatihan online untuk mengajarkan penggunaan teknologi digital. Pelatihan sangat diperlukan karena UMKM diharuskan untuk semakin mengembangkan produk dan usaha, mulai dari membuat pengemasan yang modern hingga mendapatkan sertifikasi yang relevan, agar memenangkan pelanggan dan kompetisi pasar di platform online. Blibli pun telah bekerja sama dengan pemerintah, termasuk Kementerian Koperasi dan UMKM, Smesco Indonesia, dan Sekretariat Negara, untuk membantu UMKM.

Blibli melakukan riset ini bersama Kompas dan BCG agar hasil temuan bisa menjadi peta jalan dalam bagi semua pemangku kepentingan, baik pemain industri serta pembuat kebijakan, dalam merencanakan pendekatan mereka terhadap UMKM.

Riset juga menyimpulkan bahwa perampingan kebijakan usaha, termasuk menghadirkan program untuk mempermudah pengurusan izin bagi UMKM yang ingin go digital, diperlukan untuk mendukung pertumbuhan UMKM. Penyusunan riset ini diapresiasi pemerintah, yang menempatkan UMKM sebagai tulang punggung perekonomian nasional.

Hal ini seperti ditegaskan oleh Erick Thohir, Menteri BUMN Republik Indonesia, yang menekankan UMKM di Indonesia saat ini menjadi kontributor terbesar dalam lapangan kerja dan memiliki peran besar dalam meningkatkan kualitas angkatan kerja.

“Menjaga dan meningkatkan kualitas UMKM ini juga menjadi fokus BUMN. Hadirnya teknologi serta platform digital tentunya akan memudahkan kita untuk mendukung pertumbuhan UMKM. Semua ini sejalan dengan harapan Presiden Joko Widodo untuk meningkatkan ekonomi digital Indonesia,” pungkas Erick Thohir.

Tinggalkan komen