Sennheiser resmi membawa produk terbarunya Sennheiser Spectera ke Indonesia. Ini adalah sebuah ekosistem wireless audio profesional yang dirancang untuk produksi dengan kebutuhan mikrofon wireless, in-ear monitoring (IEM), dan koordinasi frekuensi radio (RF) yang kompleks.
Teknologi ini sebelumnya telah digunakan dalam sejumlah produksi di Indonesia, termasuk konser Raisa’s Love & Let Go, Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), dan Festival Pagelaran Sabang Merauke.
Baca juga: Sennheiser Headphone Closed-Back HD 480 PRO Meluncur, Dukung Kebutuhan Studio
Berbeda dari sistem wireless yang mengandalkan pengelolaan perangkat secara terpisah, Spectera menggunakan arsitektur wideband dan bidirectional. Pendekatan ini memungkinkan beberapa link audio beroperasi dalam satu channel RF wideband sekaligus memberikan engineer kemampuan untuk memantau kondisi sistem secara remote.
Menurut Roland Lim, Sales Director Sennheiser Asia, pengelolaan wireless dapat menjadi semakin kompleks dalam produksi berskala besar ketika mikrofon, IEM, dan koordinasi RF harus ditangani secara bersamaan. “Spectera mengintegrasikan berbagai elemen tersebut dalam satu ekosistem, sehingga memberikan cara yang lebih efisien bagi engineer untuk mengelola konfigurasi wireless mereka,” ujar Roland Lim saat memperkenalkan Sennheiser Spectera di Jakarta (16/9).
Satu Base Station Sennheiser Spectera Bisa Kelola 64 Link Audio

Sennheiser Spectera mengandalkan teknologi Wireless Multichannel Audio Systems (WMAS). Salah satu kemampuan utamanya adalah mengelola hingga 64 link audio melalui satu Spectera Base Station.
Kapasitas tersebut terdiri dari 32 input dan 32 output, yang ditempatkan dalam perangkat rack berukuran 1U. Dengan konfigurasi ini, Spectera ditujukan untuk kebutuhan produksi yang harus menangani banyak koneksi audio wireless dalam ruang perangkat yang relatif ringkas.
Yang menjadi pembeda lainnya adalah komunikasi dua arah antara perangkat wireless dan Base Station. Engineer tidak hanya mengirimkan sinyal audio, tetapi juga dapat memperoleh informasi mengenai kondisi perangkat selama produksi berlangsung.
Parameter yang dapat dipantau mencakup level audio, performa RF, status baterai, kekuatan sinyal, dan kualitas koneksi. Pendekatan tersebut menjadi penting dalam produksi berskala besar karena gangguan pada salah satu perangkat wireless perlu diketahui dan ditangani tanpa harus memeriksa perangkat satu per satu secara manual.
Satu Ekosistem Kelola Mikrofon, IEM Hingga Spectera SKM

Sennheiser juga melengkapi Spectera dengan perangkat lunak untuk konfigurasi dan monitoring. SoundBase menyediakan kontrol serta monitoring volume dan pengaturan IEM, termasuk informasi mengenai RF dan baterai. Sementara Spectera WebUI digunakan sebagai antarmuka untuk konfigurasi serta monitoring sistem.
Dengan kombinasi hardware dan software tersebut, Spectera mengintegrasikan pengelolaan mikrofon wireless, IEM, dan parameter sistem dalam satu ekosistem. Bagi tim audio, nilai utama pendekatan ini bukan sekadar jumlah link yang dapat ditangani, tetapi visibilitas terhadap kondisi sistem selama produksi berlangsung. Engineer dapat memantau berbagai parameter dari sistem yang terhubung tanpa harus mengandalkan pemeriksaan perangkat secara terpisah.
Ekosistem Sennheiser Spectera akan diperluas dengan kehadiran Spectera SKM, transmitter handheld terbaru yang dijadwalkan mulai dikirimkan di Indonesia pada Q4 2026. Spectera SKM akan tersedia dalam varian UHF dan 1,4 GHz, dengan penggunaan yang mencakup live sound, teater, broadcast, dan rumah ibadah.
Perangkat ini menggunakan bodi aluminium anodized dengan desain ramping dan layar OLED. Spectera SKM juga kompatibel dengan berbagai kapsul mikrofon dari Sennheiser dan Neumann. Seperti sistem Spectera lainnya, SKM memiliki koneksi bidirectional dengan Spectera Base Station. Melalui koneksi tersebut, engineer dapat melakukan remote monitoring terhadap status baterai, performa RF, level audio, kekuatan sinyal, dan kualitas koneksi. Pengaturan gain dan low-cut juga dapat dilakukan secara remote.
Kehadiran SKM memperluas cakupan Spectera dari sistem wireless audio terintegrasi ke penggunaan mikrofon handheld. Bagi produksi yang menggunakan banyak mikrofon, pendekatan ini memungkinkan transmitter handheld menjadi bagian dari sistem monitoring yang sama.
Sudah Digunakan di Konser Raisa hingga Teater TIM

Sebelum diperkenalkan secara resmi di Indonesia, Sennheiser Spectera telah digunakan dalam beberapa produksi audio profesional di Tanah Air. Sennheiser menyebut Teater Besar Taman Ismail Marzuki, konser Raisa’s Love & Let Go, dan Festival Pagelaran Sabang Merauke sebagai beberapa contoh penerapan Spectera di Indonesia.
Penggunaan tersebut menunjukkan bahwa sistem wireless audio seperti Spectera tidak hanya relevan untuk satu jenis pertunjukan. Kebutuhannya dapat muncul pada venue budaya, konser musik, maupun produksi pertunjukan dengan jumlah perangkat wireless yang cukup banyak.
Dalam acara peluncuran di Bengkel Space, SCBD, Jakarta, Sennheiser juga mendemonstrasikan Spectera melalui pertunjukan musik live dan pertunjukan musikal singkat. Peserta dapat melihat bagaimana komunikasi dua arah dan remote monitoring digunakan untuk memantau sistem wireless selama produksi berlangsung.
Dengan masuknya Sennheiser Spectera ke Indonesia, Sennheiser membawa pendekatan wireless audio yang berfokus pada pengelolaan sistem secara terintegrasi. Kemampuan menangani hingga 64 link audio dalam satu Base Station, ditambah monitoring dan konfigurasi secara remote, menjadi bagian penting dari arsitektur tersebut.
Ikuti media sosial Gizmologi untuk mendapatkan info teknologi terkini di Instagram, TikTok dan YouTube.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

