Jakarta, Gizmologi – Tahun 2026 tampaknya menjadi periode baru bagi internet yang semakin ketat soal verifikasi usia pengguna. Setelah Discord sempat menuai kontroversi terkait rencana serupa, kini Sony dilaporkan akan mulai mewajibkan age verification untuk mengakses fitur komunikasi online di PlayStation Network (PSN).
Informasi ini mencuat lewat laporan Push Square yang menampilkan tangkapan layar prompt verifikasi umur di PlayStation Store. Dalam gambar tersebut, pengguna diminta memindai QR code untuk melanjutkan proses verifikasi melalui smartphone.
Langkah Sony ini cukup bisa dipahami. Regulasi di Inggris, Uni Eropa, Australia, hingga Amerika Serikat memang mulai mendorong platform digital membatasi akses anak di bawah umur terhadap konten atau interaksi online yang dianggap berisiko. Namun seperti biasa, kebijakan semacam ini juga langsung memunculkan pertanyaan besar soal privasi dan kenyamanan pengguna.
Baca Juga: Roblox Adopsi Sistem Rating IGRS di Indonesia, Solusi atau Tambah Polemik Baru?
Verifikasi Bisa Pakai KTP, Face Scan, atau Nomor Ponsel

Berdasarkan laporan yang beredar, pengguna akan diarahkan ke sistem verifikasi yang menyediakan beberapa metode. Mulai dari mengunggah identitas resmi, melakukan pemindaian wajah, hingga menerima SMS berbasis data operator seluler untuk mengonfirmasi usia.
Jika implementasinya lancar, metode berlapis seperti ini bisa memberi fleksibilitas bagi pengguna. Tidak semua orang nyaman mengunggah identitas, sementara sebagian lain mungkin lebih memilih verifikasi cepat lewat nomor ponsel.
Namun sisi negatifnya juga jelas. Banyak gamer kemungkinan keberatan jika harus menyerahkan data sensitif hanya untuk memakai fitur chat, voice communication, atau layanan sosial di PSN. Kekhawatiran soal penyimpanan data biometrik dan keamanan identitas hampir pasti akan menjadi topik panas.
Baru di Inggris dan Irlandia, Tapi Bisa Meluas
Saat ini kebijakan tersebut disebut masih terbatas untuk Inggris dan Irlandia. Meski begitu, besar kemungkinan langkah ini hanya awal dari ekspansi yang lebih luas, terutama jika negara lain mengesahkan aturan serupa.
Sony tentu bukan satu-satunya perusahaan yang menghadapi tekanan regulasi. Platform game, media sosial, hingga aplikasi chat kini dituntut lebih aktif melindungi pengguna muda dari konten dewasa, toxic behavior, atau risiko eksploitasi digital.
Masalahnya, batas antara perlindungan pengguna dan overreach juga tipis. Jika proses verifikasi terlalu rumit, pengguna dewasa pun bisa merasa diperlakukan berlebihan. Sebaliknya, jika terlalu longgar, tujuannya tidak tercapai.
Pada akhirnya, kebijakan ini menunjukkan arah baru industri digital: anonimitas penuh makin sulit dipertahankan. Tinggal bagaimana Sony menjaga keseimbangan antara keamanan anak, kepatuhan hukum, dan kepercayaan jutaan gamer di PSN.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



