Jakarta, Gizmologi – Spotify mulai menggulirkan fitur baru yang memungkinkan pengguna mematikan seluruh konten video di dalam aplikasi. Fitur ini akan tersedia secara global dalam waktu dekat dan bisa digunakan oleh semua pengguna, termasuk akun gratis.
Langkah ini terasa menarik, mengingat dalam beberapa tahun terakhir Spotify cukup agresif mendorong konten visual seperti Canvas, video podcast, hingga elemen visual lainnya. Bagi sebagian pengguna, ini dianggap sebagai inovasi. Namun bagi yang lain, justru terasa berlebihan untuk platform yang identik dengan audio.
Dengan fitur baru ini, pengguna kini punya kontrol lebih besar atas pengalaman mendengarkan mereka. Pertanyaannya, apakah ini benar-benar soal “memberikan pilihan”, atau justru respons terhadap kritik yang semakin sering muncul?
Baca Juga: Transaksi Digital Makin Masif, ALTO Catat Lonjakan QRIS Hampir 90% YoY
Kontrol Penuh di Tangan Pengguna, Tapi Tidak Sepenuhnya Bersih

Melalui menu Settings lalu Content and Display, pengguna bisa mematikan Canvas yang berulang, serta video dalam musik dan podcast. Setelah diatur, preferensi ini akan berlaku di semua perangkat, mulai dari mobile, desktop, web, hingga TV.
Ini jelas jadi kabar baik untuk pengguna yang ingin pengalaman lebih ringan atau hemat data. Selain itu, mematikan elemen visual juga bisa membantu mengurangi distraksi saat fokus mendengarkan musik atau podcast.
Namun, kontrol ini tidak sepenuhnya absolut. Pengguna gratis masih akan melihat video ads, serta elemen visual tertentu pada iklan audio. Artinya, pengalaman “audio-only” murni tetap tidak sepenuhnya bisa didapatkan tanpa berlangganan premium.
Inovasi Spotify untuk Pengguna
Spotify menyebut fitur ini sebagai upaya memberikan lebih banyak pilihan kepada pengguna. Tapi jika melihat tren sebelumnya, tidak sedikit pengguna yang memang merasa dorongan ke arah video ini kurang relevan. Bagi sebagian orang, Spotify adalah platform untuk mendengarkan, bukan menonton. Kehadiran video, meskipun opsional, sempat dianggap mengubah identitas utama layanan ini.
Di sisi lain, dari perspektif bisnis, konten video membuka peluang monetisasi baru, terutama lewat iklan dan engagement yang lebih tinggi. Jadi, langkah menghadirkan kontrol ini bisa dilihat sebagai kompromi antara strategi bisnis dan kenyamanan pengguna.
Menurut saya, ini adalah langkah yang cukup “realistis” dari Spotify. Mereka tidak sepenuhnya mundur dari strategi video, tapi setidaknya mulai mendengarkan feedback pengguna. Tinggal bagaimana ke depannya Spotify menyeimbangkan antara inovasi dan kebutuhan dasar penggunanya.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



