Jakarta, Gizmologi – Kaspersky menyoroti peningkatan signifikan lanskap ancaman siber di Indonesia dalam laporan terbarunya. Sepanjang 2025, tercatat lebih dari 14,9 juta serangan berbasis web dan hampir 40 juta ancaman pada perangkat berhasil dideteksi dan diblokir.
Angka tersebut menunjukkan bahwa ancaman tidak hanya meningkat dari sisi volume, tetapi juga kompleksitas. Bahkan, sekitar 20% perusahaan di Indonesia disebut pernah mengalami serangan rantai pasokan dalam periode yang sama.
Di tengah kondisi ini, perusahaan mulai beralih dari pendekatan keamanan reaktif ke strategi yang lebih proaktif. Salah satu pendekatan yang mulai banyak diadopsi adalah Security Operations Center atau SOC, yang berfungsi sebagai pusat pemantauan dan respons ancaman secara real-time.
Baca Juga: Polemik IGRS dan Steam: Rating Game Kontroversi Bikin Game Populer Terancam Terblokir
Adopsi SOC Meningkat, Tapi Tantangan Masih Nyata

Menurut Kaspersky, sekitar 58% pemimpin TI di Indonesia percaya bahwa membangun SOC dapat meningkatkan keamanan siber perusahaan mereka. Hal ini mencerminkan meningkatnya kesadaran akan pentingnya sistem keamanan terintegrasi.
Selain itu, 65% perusahaan juga berencana mengintegrasikan AI ke dalam SOC mereka. Tujuannya jelas, yakni meningkatkan efektivitas deteksi ancaman dan mempercepat respons terhadap insiden keamanan.
Namun, implementasi SOC bukan tanpa hambatan. Kaspersky mencatat beberapa tantangan utama, mulai dari keterbatasan data pelatihan berkualitas hingga kurangnya tenaga ahli AI di dalam organisasi.
Di sisi lain, kebutuhan akan solusi yang sesuai juga menjadi kendala tersendiri. Ini menunjukkan bahwa meski adopsi meningkat, kesiapan ekosistem masih belum sepenuhnya matang.
Pertumbuhan Bisnis Positif, Tapi Ancaman Ikut Naik
Secara bisnis, Kaspersky mencatat pertumbuhan global sebesar 4% YoY pada 2025, dengan kontribusi signifikan dari segmen B2B. Di Indonesia sendiri, pertumbuhan tercatat sebesar 3%, dengan lonjakan kuat di segmen konsumen.
Kawasan Asia Pasifik juga menunjukkan tren serupa, dengan peningkatan adopsi solusi keamanan seiring percepatan transformasi digital. Ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pemain di industri keamanan siber.
Namun, pertumbuhan bisnis ini berjalan beriringan dengan meningkatnya ancaman. Artinya, permintaan terhadap solusi keamanan memang naik, tapi juga menandakan risiko yang semakin besar.
Kaspersky mendorong perusahaan untuk mulai mengadopsi SOC terintegrasi yang didukung SIEM dan intelijen ancaman real-time. Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan visibilitas dan mempercepat deteksi serta respons terhadap ancaman.
Pada akhirnya, adopsi SOC bukan lagi sekadar opsi, melainkan kebutuhan. Meski begitu, keberhasilan implementasinya tetap bergantung pada kesiapan sumber daya, teknologi, dan strategi yang digunakan masing-masing organisasi.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



