Jakarta, Gizmologi – Blibli menghadirkan social experiment baru bernama JEDA, untuk mengajak masyarakat lebih bijak di ruang offline dan online. Kampanye ini didukung Kementerian Komunikasi dan Digital, Kementerian Perdagangan RI, Bank Indonesia, serta Indonesia E-commerce Association sebagai akselerator.
Dukungan ini diberikan karena melihat data Indonesia Anti Scam Center mencatat 432.637 aduan penipuan dengan total kerugian Rp9,1 triliun dalam periode 22 November 2024 hingga 14 Januari 2026. Sementara Survei APJII 2025 menunjukkan 22,12% pengguna internet Indonesia pernah mengalami penipuan online.
“Inisiatif JEDA lahir dari pemahaman bahwa kualitas keputusan tidak hanya ditentukan oleh kecepatan, tetapi juga oleh kejernihan, sehingga kami ingin menghadirkan pengalaman yang tidak hanya cepat, tetapi juga memberikan rasa percaya, baik secara online maupun offline,” ujar Nazrya Octora, Head of PR Blibli.
Baca Juga: Blibli Rayakan Anniversary hello Store dengan 5K Fun Run
Microsite JEDA Telah Digunakan oleh 158 Ribu Warga

JEDA merupakan kependekan dari Jangan Reaktif, Evaluasi, Double-check, Ambil keputusan dengan tenang. Inisiatif ini bertujuan mendorong kebiasaan pause culture untuk berhenti sejenak sebelum bertindak, baik di ruang daring maupun luring.
JEDA dihadirkan sebagai langkah strategis untuk memperkuat perlindungan konsumen dan literasi digital, melalui microsite jeda10detik.com. Sebagai ruang micro-pause sekaligus social experiment, Blibli ingin mengajak masyarakat mengambil JEDA 10 detik sebelum merespons berbagai informasi, agar lebih bijak dan tidak mudah terpantik.
Microsite ini sudah berlangsung pada 19 Februari hingga 31 Maret 2026 dan sudah melibatkan lebih dari 158.000 warga Indonesia. Hasilnya, menurut Blibli, tujuh dari 10 mengaku merasa lebih tenang setelah melakukan JEDA 10 detik. Hal ini menunjukkan bahwa jeda singkat dapat membantu menurunkan respons impulsif dan menghadirkan kejernihan sebelum mengambil keputusan.

Blibli juga mengidentifikasi sejumlah temuan terkait perilaku masyarakat dalam merespons dorongan impulsif. Pertama ialah soal konten clickbait yang keliatan mustahil yang ternyata rasa penasaran bikin warga tetap nge-klik.
Dari microsite ini juga ditemukan pengguna berusia 65+ paling gercep ngeklik banner clickbait (7,06%) lebih tinggi dibanding Gen Z dengan usia 18-24 tahun (3,43%). Blibli juga menemukan perempuan 52% bisa kena jebakan buat impulsif dan begitu juga dengan laki-laki (48%).
Dari JEDA, perusahaan juga menemukan daerah yang suka nge-klik ialah dari Jakarta (7,81%), Depok (2,22%) dan Surakarta (2,05%). Lalu mereka yang terjebak biasanya ada di jam 09.00, 11.00, 13.00, dan 15.00 WIB. Lonjakan traffic juga dikatakan terjadi saat awal Ramadan (17-21 Februari), long weekend (5-8 Maret) dan libur Lebaran (26-28 Maret).

Di microsite ini juga terdapat gamification yang simpel dan bisa dimainkan berulang kali. Secara psikologis, pendekatan ini membantu mengalihkan dorongan impulsif menjadi aktivitas sederhana yang tetap terasa memuaskan.
“Kami percaya, ekosistem yang aman dan terpercaya tidak hanya dibangun oleh teknologi, tetapi juga oleh kebiasaan,” ungkap Nazrya.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



