Jakarta, Gizmologi – Samsung kembali jadi sorotan setelah chipset terbarunya, Exynos 2700, muncul di database benchmark Geekbench. SoC ini diyakini akan menjadi otak dari lini Galaxy S27 dan S27 Plus yang akan datang.
Kemunculan ini masih dalam tahap awal, terlihat dari penggunaan engineering board (ditandai dengan kode ERD). Artinya, performa yang ditampilkan belum sepenuhnya mencerminkan versi final yang nantinya akan digunakan di perangkat komersial.


Meski begitu, benchmark awal ini tetap memberikan gambaran arah pengembangan Samsung, terutama dalam upaya mereka mengejar ketertinggalan dari kompetitor di segmen chipset flagship.
Baca Juga: Samsung Messages Dihentikan Mulai 2026, Pengguna Dialihkan ke Google Messages
Performa Awal dari Exynos 2700 dan Arsitektur CPU

Berdasarkan data Geekbench, Exynos 2700 mengusung CPU 10-core berbasis ARMv8. Core performanya berjalan hingga 2,88GHz, sementara core efisiensi berada di kisaran 2,3GHz hingga 2,4GHz.
Dalam pengujian, chipset ini mencatat skor sekitar 2.603 untuk single-core dan 10.350 untuk multi-core. Secara angka, hasil ini belum terlihat menonjol, terutama jika dibandingkan dengan chipset flagship generasi terbaru.
Namun, penting untuk diingat bahwa ini masih engineering sample. Biasanya, performa akan meningkat signifikan saat mendekati versi final, baik dari sisi optimasi software maupun clock speed yang lebih agresif.
GPU Baru dan Proses 2nm Jadi Taruhan
Di sisi grafis, Exynos 2700 dibekali GPU Xclipse 970 yang kali ini dikabarkan dikembangkan sepenuhnya oleh Samsung, tanpa kolaborasi dengan AMD seperti generasi sebelumnya.
Hasil OpenCL menunjukkan skor 15.618, yang cukup menjanjikan, meskipun belum bisa disimpulkan sejauh mana performanya dalam penggunaan gaming atau rendering berat. Keputusan untuk mengembangkan GPU secara in-house juga jadi langkah berani, dengan risiko sekaligus potensi besar.
Selain itu, chipset ini disebut akan diproduksi menggunakan proses fabrikasi 2nm (SF2P). Jika klaim benar, Samsung menargetkan peningkatan performa hingga 12 persen dan efisiensi daya hingga 25 persen dibanding generasi sebelumnya.
Meski terdengar menjanjikan, sejarah Exynos yang sering kalah konsisten dibanding kompetitor membuat banyak pihak masih menunggu pembuktian nyata. Pada akhirnya, bukan sekadar angka benchmark, melainkan stabilitas performa dan efisiensi di dunia nyata yang akan menentukan apakah Exynos 2700 benar-benar bisa kembali bersaing di level flagship.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



