Jakarta, Gizmologi – Huawei kembali mencuri perhatian industri semikonduktor setelah memamerkan sejumlah perkembangan teknologi chip terbaru dalam ajang International Symposium of Circuits and Systems (ISCAS) di Shanghai. Dalam presentasinya, perusahaan asal China itu bahkan mengklaim telah mengembangkan pendekatan baru yang disebut bisa menjadi penerus Moore’s Law.
Selama lebih dari lima dekade, Moore’s Law menjadi fondasi perkembangan industri chip global. Konsep tersebut pada dasarnya menggambarkan bagaimana jumlah transistor di dalam chip terus meningkat secara berkala untuk mendongkrak performa komputasi. Namun belakangan, pendekatan ini mulai menghadapi batas fisik dan tantangan biaya produksi yang semakin tinggi.
Huawei tampaknya melihat celah di situ. Perusahaan memperkenalkan konsep baru bernama Tau (τ) Scaling Law yang diklaim tidak lagi berfokus pada sekadar penyusutan ukuran transistor, melainkan optimalisasi berbasis waktu dan efisiensi propagasi sinyal.
Baca Juga: Huawei nova 16 Series Meluncur 1 Juni, Varian Ultra Disebut Bawa Baterai 7.000mAh
Huawei Siapkan Arsitektur LogicFolding

Bersamaan dengan pengumuman Tau Scaling Law, mereka juga memperkenalkan arsitektur baru bernama LogicFolding. Teknologi ini diklaim mampu mengurangi delay propagasi sinyal sekaligus meningkatkan kepadatan transistor di dalam chip.
Menurut Huawei, pendekatan tersebut tidak hanya relevan untuk chip smartphone, tetapi juga dapat diterapkan pada sistem komputasi lain, termasuk sirkuit dan berbagai jenis prosesor modern. Perusahaan bahkan menyebut telah memproduksi massal lebih dari 381 chip berbasis konsep Tau Scaling Law untuk berbagai industri.
Yang cukup menarik, Huawei memastikan generasi Kirin terbaru pada 2026 akan menjadi chip smartphone pertama yang mengadopsi arsitektur LogicFolding. Perusahaan menjanjikan peningkatan performa signifikan dibanding generasi sebelumnya.
Huawei juga mengklaim bahwa chip kelas atas mereka pada 2031 nantinya dapat mencapai kepadatan transistor setara proses manufaktur 1.4nm. Klaim ini tentu cukup ambisius mengingat industri semikonduktor global sendiri masih terus berupaya menstabilkan produksi di node yang jauh lebih besar.
Ambisi Besar di Tengah Tekanan Industri
Kalau melihat presentasinya, Huawei jelas ingin menunjukkan bahwa mereka masih mampu berinovasi di tengah berbagai pembatasan teknologi dan sanksi perdagangan yang dialami dalam beberapa tahun terakhir. Apalagi industri chip saat ini memang sedang mencari pendekatan baru karena Moore’s Law mulai dianggap tidak seefektif dulu.
Meski begitu, konsep seperti Tau Scaling Law tentu masih perlu pembuktian lebih lanjut di dunia nyata. Industri semikonduktor bukan hanya soal teori atau desain chip, tetapi juga menyangkut kemampuan manufaktur, efisiensi produksi, hingga kompatibilitas ekosistem software.
Huawei sendiri tampaknya menyadari hal tersebut. Dalam presentasinya, perusahaan menegaskan bahwa kolaborasi global tetap menjadi hal penting karena tidak ada satu perusahaan pun yang bisa menyelesaikan seluruh tantangan evolusi semikonduktor sendirian.
Menarik untuk melihat apakah pendekatan baru Huawei ini benar-benar bisa menjadi alternatif serius di industri chip modern, atau justru hanya menjadi strategi diferensiasi di tengah persaingan teknologi global yang semakin panas.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



