Gizmologi
Situs Berita Gadget dan Teknologi Indonesia

Review vivo X50 Pro: Gimbal yang Bikin Mahal

2 20.226

Sebelumnya, kita telah mengenal teknologi gimbal sebagai aksesori tambahan yang terpisah dari smartphone. Perangkat ini sangat membantu untuk pengambilan video agar stabil. Bagi sebagian orang, mungkin kurang praktis, karena harus membawa perangkat tambahan. Kemudian hadirlah vivo X50 series di semester pertama 2020, dengan vivo X50 Pro yang menjadi bintangnya.

Vivo X50 Pro bukan varian yang terbaik dalam hal penggunaan chipset. Namun seri ini telah mengadopsi teknologi Gimbal Stabilization, yang sebelumnya diperkenalkan di smartphone purwarupa, APEX 2020. Tak hanya sekadar gimmick, alias memang dapat meningkatkan kualitas video dan foto secara signifikan. Dan masih dipasangkan dengan sensor kamera lainnya dengan setup lengkap.

Selama lebih dari satu minggu menggunakan vivo X50 Pro sebagai daily driver, teknologi tersebut bukanlah satu-satunya fitur yang membuat saya terkesima dengan smartphone ini. Secara keseluruhan, perangkat ini menghadirkan paket lengkap, untuk sebuah smartphone dengan spesifikasi menengah yang dijual dengan harga premium.

Apakah perangkat ini cocok untuk semua orang? Tentu saja tidak. Berikut adalah impresi lengkap saya mengenai vivo X50 Pro.

Desain vivo X50 Pro

bodi belakang vivo X50 Pro

Ini adalah smartphone vivo pertama yang pernah saya ulas, dan sepertinya telah memberikan impresi yang memesona. Tidak hanya ketika memegang unitnya, kesan premium terasa sejak pertama kali membuka boks atau kotak dari vivo X50 Pro. Presentasinya dibuat sangat baik dan rapi, sampai tata letak aksesorinya sendiri.

Beralih ke smartphone-nya, ini adalah perangkat yang terlihat sangat elegan ketika dipandang, dan terasa premium ketika digenggam. Layar depannya dibuat melengkung, kamera punch-hole dibuat kecil seperti seri vivo V19 sebelumnya, dan sangat tipis dengan ketebalan hanya 8mm.

Beratnya tak sampai 200 gram, alias hanya sekitar 180 gram saja. Ini bisa dibilang cukup impresif, mengingat modul gimbalnya sendiri sudah memakan ruang yang jauh lebih banyak daripada teknologi OIS konvensional. Sudut sampingnya dibuat sedikit melengkung dengan kombinasi kaca belakang yang dibuat doff atau frosted, alias tidak mudah kotor terkena sidik jari.

sisi atas vivo X50 Pro

Varian Alpha Grey seolah memiliki palet warna biru dan abu-abu, berubah-ubah sesuai tangkapan cahaya. Setup kameranya juga dibuat berbeda dari yang lain, tak mengikuti tren “kamera boba” atau sejenisnya, menjadikannya punya ciri khas tersendiri. Oh ya, vivo X50 Pro juga termasuk dalam sedikit smartphone yang bisa berdiri secara mandiri, karena bagian bawah dan atas bingkai aluminiumnya dibuat datar.

Desain kameranya memang terlihat timbul, namun juga sama dengan smartphone flagship lain dengan sensor banyak atau besar. Sedikit kekurangan terdapat pada absennya sertifikasi ketahanan air, meski ketika slot dual SIM dilepas, terlihat vivo memberikan lapisan karet ekstra untuk menyumbat masuknya air.

Layar

layar vivo X50 Pro

Secara ukuran, layar vivo X50 Pro bisa dibilang cukup besar di 6,56 inci. Namun smartphone ini terasa relatif kecil ketika digenggam. Hal tersebut karena rasio layar yang cukup tinggi, penggunaan layar lengkung, dimensi punch-hole kecil serta keempat bezel yang sangat tipis. Panel AMOLED yang digunakan punya resolusi full HD+ dengan kerapatan piksel mencapai 398 ppi.

Reproduksi warnanya cukup baik dan melimpah khas panel AMOLED, dan sudah mendukung konten HDR10+. vivo juga berikan tiga opsi mode warna serta pengaturan temperatur untuk disesuaikan dengan pengguna. Sisi lengkung di bagian kiri dan kanannya tidak terlalu besar, tapi sudah sangat cukup untuk membuat tampilan depannya terlihat mewah.

Dan sesuai standar flagship, layarnya sudah mendukung refresh rate 90Hz dengan touch sampling 180Hz. Seluruh konten yang ditampilkan akan terlihat lebih halus, termasuk scroll timeline Instagram dan Twitter. Digunakan di bawah sinar matahari juga tidak masalah, konten di layar mampu terlihat dengan baik. Begitu juga dengan vibration motor-nya, cukup halus meski bukan yang terbaik di kelasnya.

layar vivo X50 Pro

Opsi always-on display juga tentunya hadir di vivo X50 Pro. Tanpa LED notifikasi, pesan yang masuk akan ditampilkan dengan efek semburan dari sisi kiri dan kanan layar, bisa dikustomisasi lewat menu Settings. Hanya saja, ikon notifikasi di bawah jam masih sangat terbatas, belum mendukung semua aplikasi pihak ketiga. Situasi ini serupa dengan ColorOS terdahulu, yang kemudian sudah dibenahi melalui pembaruan OS.

Sensor sidik jarinya juga sudah dibenamkan di bawah layar, dan cukup akurat selama pengujian. Opsi face unlock juga tentu tersedia, yang otomatis menyalakan layar ketika berada di kondisi ruangan gelap.

Fitur face unlock juga bekerja lancar. Namun anehnya, bisa tetap mendeteksi wajah meski saya sedang menggunakan masker. Jadi jika kamu mengutamakan keamanan, lebih baik gunakan in-display fingerprint saja ya.

Kamera Gimbal vivo X50 Pro

kamera vivo X50 Pro

Terdapat empat sensor kamera yang disematkan di bodi belakang vivo X50 Pro, masing-masing adalah sensor utama 48MP, 13MP portrait, 8MP telephoto dan 8MP ultra-wide. Keempatnya ditemani laser autofocus serta triple-LED dual-tone flash.

Mari kita membahas kamera utamanya terlebih dahulu. vivo X50 Pro menggunakan sensor dari Sony, yaitu IMX598 48MP dengan bukaan f/1.6 dan ukuran piksel 0,8um. Ini adalah satu-satunya sensor yang dilengkapi dengan sistem micro-gimbal, yang diklaim 3x lebih baik daripada OIS regular. Dalam situasi yang senyap, mekanismenya bisa terasa maupun terdengar seperti sedang bergerak, karena memang ini merupakan stabilisasi dalam jenis perangkat keras.

Teknologi gimbal di vivo X50 Pro sudah disempurnakan dari konsep APEX 2020, dengan ukuran yang diperkecil 40%, lebih tipis 1mm dan dapat diposisikan sangat dekat ke layar, hanya membutuhkan jeda 0,13mm saja. Pada menu pengaturan, terdapat menu kalibrasi khusus yang jika ditekan, akan menggerakkan sensor ke berbagai arah. Juga disediakan sebuah radar di layar untuk menandakan apakah gimbal sedang stabil di titik tengah atau lainnya.

Kendati demikian, teknologi gimbal ini masih perlu diuji apakah hasilnya berbeda jauh jika dibandingkan dengan kompetitor. Misalnya saja Samsung, OPPO, dan Huawei, yang punya nama masing-masing untuk teknologi ultra stabilizer-nya (super steady, ultra steady, dll).

Dalam kondisi cukup cahaya, sensor utama vivo X50 Pro mampu hasilkan kualitas foto yang mendetil, dengan dynamic range yang lebar meski terkadang sedikit terlihat kurang natural. Secara default, foto yang ditangkap beresolusi 12MP, namun tersedia opsi untuk menangkap foto dalam resolusi penuh 48MP.

Kamera ultra-wide 8MP f/2.2 mendapatkan benefit dari adanya laser autofocus, dan dapat dimanfaatkan untuk mengambil objek foto dekat dengan jarak hingga 2,5cm. Kualitasnya cenderung biasa saja, dengan detil yang tentunya menurun dan cenderung halus. Yang agak kurang nyaman, ketika sedang ingin memotret sebuah objek benda secara dekat dari sensor kamera utama, smartphone secara otomatis mengganti kamera ke ultra-wide dengan mode makro.

Lalu ada kamera 13MP f/2.5 50mm dengan 2x optical zoom, yang disebut sebagai lensa potret. Ketika masuk ke mode potret, secara otomatis akan berpindah ke kamera yang satu ini (meski pengguna dapat mengubahnya ke 1x). Mengambil foto potret menggunakan vivo X50 Pro cukup menyenangkan dengan hasil yang memuaskan. Kecuali beberapa bagian foto masih kurang tepat dalam separasi antara objek dan latar terutama di sekitar rambut dan kacamata.

Ada isu yang saya alami adalah bagaimana smartphone ini mengambil fokus. Di aplikasi kameranya sendiri, vivo sediakan beragam fitur fokus seperti deteksi objek sampai mata objek. Namun tak jarang ketika mengambil foto potret, hasil akhirnya menampilkan titik fokus yang salah, atau bahkan ketika sedang mengambil foto dari viewfinder. Memang, titik fokus bisa diperbaiki setelah pengambilan foto. Namun isu ini juga terkadang dialami  juga di video.

Sedangkan untuk pengambilan objek foto yang lebih jauh, disediakan sensor 8MP f/3.4 135mm dengan 5x optical zoom dan OIS 4-axis. Secara total, smartphone ini dapat mengambil foto mencapai 60x hybrid zoom. Dengan tulisan “Professional Photography” yang ada di sisi atas smartphone, vivo X50 Pro juga tak main-main dalam hadirkan mode kamera lengkap.

Menggunakan zoom maksimal 60x.

Semua mode bisa dibilang ada, seperti panorama, slow-motion, mode professional (ISO 50-3200, shutter 1/12000-32 detik), sampai mode khusus untuk menangkap bulan dan bintang. vivo juga sediakan mode pro sports untuk objek yang bergerak cepat. Sedikit kekurangan ada pada efek beauty di mode potret yang cukup susah untuk mematikan semua efeknya, dan watermark yang tidak bisa di-customize.

Bagaimana dengan kualitas foto malam? Stabilisasi gimbal sangat membantu untuk hasilkan foto bagus dengan detil yang berlimpah. Adanya gimbal membuat smartphone dapat gunakan shutter yang lebih lama, sehingga lebih banyak cahaya yang dapat ditangkap oleh sensor. Bahkan dengan mode malam yang memerlukan waktu pengambilan 3-4 detik, tangan saya tidak harus benar-benar 100% diam untuk hasilkan foto steady. Justru kalau benar-benar stabil, smartphone secara otomatis mendeteksi mode tripod dan memperlama shutter sampai 10 detik.

Ketika ada di kondisi pencahayaan gelap pekat, vivo X50 Pro akan secara otomatis tawarkan mode Extreme Night Vision. Hasilnya? Berikut adalah tampilan kondisi pencahayaan sesungguhnya dari viewfinder, dan hasil tangkapan kamera vivo X50 Pro. Sampai di belakang teman saya, isi gym di dalam gedung juga terlihat. Mode malam di vivo X50 Pro tak hanya membuat terang, namun juga meningkatkan detil foto. Juga berfungsi di tiga sensor kamera lainnya.

vivo X50 Pro extreme night vision
Tampilan kondisi gelap sebelum ambil foto menggunakan mode malam – extreme night vision.

Menggunakan mode potret 2x di kondisi pencahayaan gelap.

Sementara kamera depan 32MP f/2.5 di vivo X50 Pro punya hasil yang cenderung halus, seolah efek beauty-nya tak bisa dihilangkan seutuhnya. Mode malam juga bisa digunakan di kamera depan. Poin yang juga perlu saya mention perihal kamera depan: kualitasnya bagus ketika digunakan untuk video call lewat Google Duo. Karena tak banyak smartphone dengan kamera depan beresolusi tinggi bisa optimalkan kualitas saat video call.

Menggunakan mode potret.
Mengaktifkan mode malam di kondisi hampir gelap pekat.

Kamera belakang vivo X50 Pro sanggup merekam video hingga resolusi 4K 30fps. Dalam mode perekaman 1080p, kita dapat berpindah dari lensa ultra-wide sampai 5x zoom ketika sedang merekam video. Sementara mode Ultra Stable secara otomatis mengubah resolusi ke 1080p 60fps.

Ketika digunakan untuk merekam sambal berjalan, hasilnya cenderung biasa saja, alias sama dengan smartphone lain yang menggunakan OIS dan EIS. Namun efek stabilisasi gimbal baru akan terasa sangat stabil ketika kita berjalan di permukaan yang tidak rata seperti naik turun tangga, misalnya. Atau berlari bahkan di malam hari, dengan vivo X50 Pro masih mampu hasilkan video stabil tanpa blur yang biasanya dominan ketika EIS digunakan.

Untuk hasil perekaman videonya, tunggu video terpisah dari ulasan ini ya! Sementara itu, kamu dapat mengakses ratusan foto dari vivo X50 Pro pada album berikut ini.

Fitur

Funtouch OS 10.5
Tampilan antarmuka Funtouch 10.5 di vivo X50 Pro sudah jauh lebih baik.

Menurut saya, tampilan Funtouch versi terdahulu adalah salah satu yang paling tidak menarik. Terkesan sangat meniru tampilan antarmuka iOS, seolah tidak memiliki jati diri atau karakter sendiri. Namun sekarang sudah jauh lebih baik dengan Funtouch 10.5 berbasis Android 10.

Tampilannya sudah jauh lebih clean tanpa elemen-elemen yang tidak perlu. Ikon aplikasinya juga sudah nggak norak, lebih elegan dan sesuai dengan desain smartphone-nya yang modern. Mau langsung pakai, bisa. Mau dikustomisasi lebih lanjut juga bisa—bahkan vivo berikan menu khusus untuk mengganti efek animasi seperti ketika layar menyala, deteksi sidik jari sampai ketika charger dicolokkan ke port USB-C.

Saya juga suka dengan pilihan live wallpaper yang disediakan oleh vivo X50 Pro, tak sedikit teman yang terkesima ketika pertama kali melihat tampilan home screen dengan wallpaper bergerak. Sebuah hal simpel yang menambah nilai jual. Namun ada beberapa kekurangan yang menurut saya dapat ditingkatkan oleh vivo kedepannya.

Pertama, gestur geser ke bawah di home screen belum bisa diubah untuk menurunkan bar notifikasi. Lalu tampilan Dark Mode secara otomatis juga mengubah aplikasi pihak ketiga menjadi gelap, membuat tampilan antarmuka aplikasi Twitter jadi sedikit kurang jelas. Dan ketika menggunakan navigasi full gesture, vivo tidak berikan ruang kosong di bawah virtual keyboard, sehingga papan ketik menjadi terlalu rendah karena bezel bawah yang sangat ramping.

Dan saya juga tidak menemukan opsi agar aplikasi tetap berjalan normal tanpa optimisasi khusus. Terkadang ketika smartphone diletakkan di posisi yang statis (seperti di atas meja) dalam waktu lama, notifikasi tidak berjalan dan sambungan ke smartwatch jadi terputus. Ketika diambil, notifikasi masuk, namun smartwatch masih tidak tersambung. Sehingga saya harus akses aplikasi WearOS untuk trigger agar sambungan kembali berjalan. Jarang, sih, tapi terjadi beberapa kali dalam satu minggu.

Sudah mendukung Hi-Fi audio, kamu tak akan menemukan jack audio 3,5mm pada smartphone ini, sehingga harus gunakan converter atau perangkat audio nirkabel. Sayangnya, ketika saya sambungkan ke beberapa perangkat TWS, opsi untuk format AAC tidak saya temukan di menu Bluetooth. Sehingga keluaran suaranya masih kurang detil. Sementara speaker mono di bawah punya keluaran suara yang rata-rata.

Performa

benchmark vivo X50 Pro

vivo menunjuk prosesor kelas menengah terbaru dan tertinggi dari Qualcomm, yaitu Snapdragon 765G yang memiliki basis CPU octa-core hingga clockspeed 2,4GHz serta GPU Adreno 620. Dipadukan dengan RAM 8GB dan penyimpanan internal 256GB yang relatif kencang, tidak ada gangguan performa maupun suhu panas sama sekali ketika menggunakan smartphone ini sehari-hari.

Meski sebelumnya menggunakan sebuah smartphone dengan chipset Snapdragon 865, saya tidak merasa ada penurunan performa yang signifikan. Dibuat bermain gim pun masih nyaman. Paling terasa hanya ketika membuka aplikasi atau gim, jeda sepersekian detik lebih lama. Atau ketika mengambil foto dengan efek potret dan burst, membutuhkan waktu beberapa detik ketika hendak melihatnya secara langsung, seperti di smartphone lain yang gunakan Snapdragon 845.

Apalagi dengan refresh rate tinggi, bernavigasi di smartphone ini terasa responsif dan halus. Namun memang, tak dapat dipungkiri, banyak smartphone lain yang gunakan chipset lebih baik pada rentang harga yang serupa. Jika memang hendak mencari smartphone dengan performa terbaik, hal tersebut tentu bukan nilai jual utama vivo X50 Pro, meski juga tidak lambat.

Oh ya, chipset ini memang sudah mendukung 5G. Namun opsinya tak bisa ditemukan hingga saat ini. Sepertinya fitur tersebut masih dikunci sampai regulasi jaringan di Indonesia untuk konektivitas masa depan tersebut terselesaikan.

Baterai

Walaupun dimensinya cukup tipis, vivo masih bisa menyematkan kapasitas baterai yang lumayan besar yaitu 4,315 mAh pada vivo X50 Pro. Kapasitas tersebut kurang lebih cukup untuk penggunaan dalam satu hari penuh, bahkan dengan cukup intensif sekalipun.

Copot charger dari jam 7 pagi, saya menggunakan smartphone ini dengan menyalakan AOD, set layar ke 90Hz dan mengaktifkan sensor konektivitas lain seperti Bluetooth serta NFC. Baterai masih tersisa sekitar 9-11% di penghujung malam. Kalau lagi intensif banget rekam video maupun ambil foto, bakal habis lebih dulu menjelang malam.

Mendukung teknologi vivo FlashCharge 2.0 yang berjalan di 33 watt, mengisi daya menggunakan charger bawaan bisa dibilang singkat. 30 menit sudah mencapai lebih dari 50%, sementara untuk full charge butuh waktu sekitar 70 menit. Sayangnya, ketika saya charge menggunakan GaN charger 65 watt, fitur fast charging-nya tidak aktif. Menandai jika perangkat ini tidak backward compatible dengan PD maupun QC.

Kesimpulan

kelengkapan vivo X50 Pro

Sepertinya tahun ini adalah waktu yang tepat bagi vivo Indonesia untuk akhirnya menghadirkan sebuah smartphone kelas flagship, yaitu vivo X50 Pro. Smartphone ini layak disandingkan dengan kompetitor lain pada harga yang sekelas, mampu menawarkan fitur yang tidak kalah lengkap, dibalut dengan desain yang sangat premium.

Teknologi Gimbal Stabilization yang dibawa mampu tingkatkan kualitas video dengan signifikan, dan juga membantu penggunanya untuk mengambil foto malam tanpa perlu usaha berlebih untuk hasil yang bagus. Tak hanya untuk videografi, namun juga cocok bagi mereka yang menekuni hobi fotografi.

Di sisi lain, chipset-nya bukan yang paling kencang, belum waterproof, dan beberapa elemen pada Funtouch OS masih perlu diperbaiki, meski sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya.

Jika memang ingin serius dalam videografi dan penasaran dengan teknologi gimbalnya, kamu harus merogoh kocek Rp10 juta kurang seribu. Bandingkan dengan versi generik Vivo X50 yang tidak dibekali gimbal OIS, harganya Rp6,999 juta. Artinya, kamu harus menambah Rp3 juta untuk sebuah gimbal. Sehingga tak salah jika disebut Vivo X50 Pro ini gimbalnya yang bikin mahal.


Cek harga smartphone vivo di:

Lazada Blibli JD.ID Shopee Eraspace

 Spesifikasi vivo X50 Pro

vivo X50 Pro
Klik pada gambar untuk spesifikasi lebih lengkap

General

Device Type Smartphone
Model / Series vivo X50 Pro
Released 16 Juli, 2020
Status Available
Price Rp9.999.000 (8GB/256GB)

Platform

Chipset Qualcomm SDM765 Snapdragon 765G (7 nm)
CPU Octa-core (1x2.4 GHz Kryo 475 Prime & 1x2.2 GHz Kryo 475 Gold & 6x1.8 GHz Kryo 475 Silver)
GPU Adreno 620
RAM (Memory) 8 GB
Storage 256 GB
Operating System Android 10
User Interface Funtouch 10.5

Design

Dimensions 158.5 x 72.8 x 8 mm
Weight 181 gram
Design Features Tempered glass front & (frosted) back, aluminium frame
Battery Non-removable Li-Po 4135 mAh battery

Network

Network Frequency LTE band 1(2100), 3(1800), 5(850), 8(900), 40(2300)
5G band 1, 3, 41, 77, 78, 79 SA/NSA
SIM Dual SIM (Nano-SIM, dual stand-by)
Data Speed HSPA 42.2/5.76 Mbps, LTE-A, 5G

Display

Screen Type AMOLED capacitive touchscreen, 16M colors
Size and Resolution 6.56", 1080 x 2376 pixels (~398 ppi density)
Touch Screen Yes
Features 90Hz refresh rate, curved display, HDR10+, Widevine L1 DRM, always-on display, in-display fingerprint sensor

Camera

Multi Camera Yes (Rear)
Rear 48MP f/1.6 (wide), PDAF, gimbal OIS + 8MP f/3.4, 135mm (periscope), OIS, 5x optical zoom + 13MP f/2.5, 50mm (portrait), 2x optical zoom + 8MP f/2.2, 120˚, 16mm (ultrawide)
Front 32MP, f/2.5, 26mm (wide), 1/2.8", 0.8µm
Flash Yes, triple-LED dual-tone
Video [email protected]/60fps, [email protected]/60fps
Camera Features Pro Sports Mode, Extreme Night Vision Mode, Starry Sky, Supermoon, Pro mode, Super macro, Ultra Steady

Connectivity

Wi-fi Wi-Fi is a popular wireless networking technology using radio waves to provide high-speed network connections that allows devices to communicate without cords or cables, Wi-Fi is increasingly becoming the preferred mode of internet connectivity all over the world. Wi-Fi 802.11 a/b/g/n/ac, dual-band, Wi-Fi Direct, hotspot
Bluetooth Bluetooth is a wireless communications technology for exchanging data between mobile phones, headsets, computers and other network devices over short distances without wires, Bluetooth technology was primarily designed to support simple wireless networking of personal consumer devices. 5.1, A2DP, LE, aptX HD
USB Type-C 1.0 reversible connector, USB On-The-Go
GPS GPS The Global Positioning System is a satellite-based radio navigation system, GPS permits users to determine their position, velocity and the time 24 hours a day, in all weather, anywhere in the world, In order to locate your position, your device or GPS receiver must have a clear view of the sky. Yes, with A-GPS, GLONASS, GALILEO, BDS
HDMI HDMI (High-Definition Multimedia Interface) is a compact audio/video interface for transferring uncompressed video data and compressed or uncompressed digital audio data from a HDMI-compliant source device to a compatible computer monitor, video projector, digital television, or digital audio device. No
Wireless Charging Wireless Charging (Inductive Charging) uses an electromagnetic field to transfer energy between two objects. This is usually done with a charging station. Energy is sent through an inductive coupling to an electrical device, which can then use that energy to charge batteries or run the device. No
NFC NFC (Near field communication) is a set of standards for smartphones and similar devices to establish peer-to-peer radio communications with each other by touching them together or bringing them into proximity, usually no more than a few inches.
Infrared Infrared connectivity is an old wireless technology used to connect two electronic devices. It uses a beam of infrared light to transmit information and so requires direct line of sight and operates only at close range. No

Smartphone Features

FM Radio Yes
Web Browser Web Browser => a web browser is a software application used to locate, retrieve and display content on the World Wide Web, including Web pages, images, video and other files, The primary function of a web browser is to render HTML, the code used to design or markup webpages. HTML 5
Messaging SMS, MMS, Online
Sensors Sensors are electronic components that detects and responds to some type of input from the physical environment. The specific input could be light, heat, motion, moisture, pressure and location, The output is generally a signal that is converted to use in computing systems, a location sensor, such as a GPS receiver is able to detect current location of your electronic device. Fingerprint (under display, optical), accelerometer, gyro, proximity, compass, color spectrum
Other Colors: Alpha Grey
Fast charging 33 Watt
85%
Bagus

Review vivo X50 Pro

chipset-nya bukan yang paling kencang, belum waterproof, dan beberapa elemen pada Funtouch OS masih perlu diperbaiki, meski sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya. Smartphone ini unggul dengan mekanisme kamera gimbal.

  • Design
  • Display
  • Camera
  • Performance
  • Features
  • Battery