Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital mengaku sudah membangun akses internet di lebih dari 31.000 lokasi di Indonesia. Meski mereka menegaskan bahwa mereka bukan operator telekomunikasi namun kewajiban membantu operator membuka akses komunikasi yang merata sudah mereka lakukan, terutama di lokasi 3T, Terdepan, Terluar dan Tertinggal.
Hal ini dikatakan Direktur Utama BAKTI Komdigi, Fadilah Mathar atau yang biasa disapa Indah. Menurut Indah, pihaknya terus memacu efektivitas pemanfaatan infrastruktur internet di kawasan 3T demi memangkas kesenjangan digital sekaligus memperkuat layanan publik serta merangsang pertumbuhan ekonomi kawasan.
“Semua akses internet ini tidak akan terwujud jika tidak memanfaatkan sejumlah aset infrastruktur strategis nasional. Ada Satelit Republik Indonesia (Satria-1) yang ada di ruang angkasa. Ada juga jaringan serat optik Palapa Ring yang membentang di laut sampai ke darat,” ujar Indah, saat BAKTI Media Connect 2026 dengan tema “Memeratakan Akses Informasi ke Penjuru Negeri”, Rabu, 12 Agustus 2026.

Indah menjelaskan jika Satelit Republik Indonesia (Satria-1) yang berkapasitas 150 Gbps mengorbit telah digunakan untuk menjangkau fasilitas sekolah, puskesmas, kantor pemerintah daerah, hingga pos perbatasan TNI/Polri sejak 2024. Satelit multifungsi terbesar di Asia ini menjadi penopang utama daerah yang terisolasi dari jalur darat.
Dari sisi jaringan darat dan laut, tulang punggung jaringan serat optik Palapa Ring membentang sepanjang 12.148 kilometer. Jaringan ini melayani 131 lokasi titik Network Operation Center (NOC) di 57 kabupaten/kota non-komersial yang terbagi dalam wilayah Barat, Tengah, hingga Timur Indonesia.
“Kami juga memperkuat penetrasi konektivitas dengan program BAKTI AKSI yang telah menyalurkan akses internet gratis di lebih dari 31.864 titik layanan publik di seluruh Indonesia. Sementara itu, program BAKTI Sinyal mencatatkan pembangunan BTS 4G dan BTS Universal Service Obligation (USO) di 6.747 titik lokasi 3T berbasis pendanaan APBN serta kontribusi dana USO,” papar Indah.
BAKTI Komdigi Bukan Operator
Indah menyebut akses internet di 31.000 lokasi di 3T telah digunakan lebih besar untuk kepentingan di sektor pendidikan. Sisanya di sektor kesehatan, kegiatan masyarakat dan pemerintahan.
“Sektor pendidikan sekitar 68%, sektor kesehatan sebesar 5,89% untuk mendukung e-government. Kemudian, sekitar 19,9% lokasi yang merupakan kantor pemerintahan, pusat kegiatan masyarakat, misalnya pasar-pasar tradisional, kemudian tempat ibadah, pos-pos pertahanan dan keamanan, lokasi usaha dan pelayanan usaha, serta transportasi publik,” kata Indah.
Meski telah membuka akses internet yang cukup masif di seluruh pedalaman Indonesia, Indah menegaskan jika BAKTI Komdigi bukanlah operator telekomunikasi. Bakti merupakan agensi yang melakukan dan mengelola pembiayaan. Core network seluruhnya dimiliki oleh operator seluler di Indonesia.
“Kami seperti kaki meja untuk tenis meja. Ada empat kaki. Pertama adalah keberlanjutan masyarakat karena hal ini akan membantu adopsi dan inklusi. Kedua, kualitas layanan. Ketiga, mendorong skalabilitas UMKM. Keempat, dan tidak kalah penting, adalah keberlanjutan industri. Jangan sampai pemerintah hadir justru mematikan lahan komersial,” kata Indah
Oleh karena itu, menurutnya, berkaitan dengan hal yang keempat ini, BAKTI sedang mempersiapkan, dan sudah berlangsung sejak 2024, apa yang disebut sebagai exit strategy.
“Jadi, wilayah-wilayah dengan kriteria tertentu dan tingkat maturitas tertentu akan kami tawarkan kepada vendor, operator, atau mitra kami yang lain, misalnya tower provider, untuk diambil alih. Keberhasilan pemerintah dalam Universal Service Obligation bukan diukur dari seberapa lama kami berada di sana, tetapi seberapa cepat kami bisa melakukan exit dari lokasi tersebut. Artinya, masyarakat sudah bisa mandiri,” paparnya.
Daerah yang Mendapatkan Manfaat Besar dari Program BAKTI Komdigi
BAKTI pun memaparkan bukti nyata keberhasilan pemanfaatan konektivitas di berbagai daerah. Salah satunya di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang menjadi percontohan integrasi program Akses Internet untuk modernisasi sekolah serta optimalisasi rujukan layanan medis puskesmas.
Kisah sukses lain terlihat di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Kehadiran BTS BAKTI di wilayah tersebut terbukti ampuh mengikis wilayah tanpa sinyal (blank spot), membuka keterisolasian komunikasi masyarakat, sekaligus menggerakkan roda perekonomian lokal.
“Keberlanjutan infrastruktur digital di daerah pelosok membutuhkan model kolaborasi strategis lintas sektor. Sinergi antara pemerintah pusat melalui BAKTI Komdigi, pemerintah daerah, serta operator seluler seperti Telkomsel menjadi kunci pemeliharaan aset jangka panjang,” tutup Indah.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

