Jakarta, Gizmologi – Microsoft kembali melakukan pemangkasan tenaga kerja dalam skala besar. Perusahaan mengumumkan akan mengurangi sekitar 4.800 posisi atau sekitar 2,1% dari total karyawan globalnya. Dari jumlah tersebut, sekitar 3.200 posisi berasal dari divisi gaming, termasuk Xbox.
Laporan dari Reuters, ini menjadi salah satu restrukturisasi terbesar yang dilakukan Microsoft dalam beberapa tahun terakhir. Menariknya, keputusan tersebut hadir setelah perusahaan menggelontorkan dana puluhan miliar dolar untuk memperkuat bisnis gaming, termasuk melalui akuisisi Activision Blizzard yang sempat menjadi sorotan industri.
Meski berbagai investasi besar telah dilakukan, Xbox masih menghadapi tantangan untuk mengejar dominasi PlayStation milik Sony dan Nintendo di pasar konsol. Dalam beberapa tahun terakhir, Microsoft juga mulai mengubah strategi bisnisnya dengan menghadirkan lebih banyak game ke berbagai platform dibanding hanya mengandalkan eksklusivitas untuk mendorong penjualan konsol Xbox.
Baca Juga: Microsoft Work Trend Index 2026, Ungkap Pentingnya Adopsi AI
Empat Studio Akan Dilepas dari Xbox

Sebagai bagian dari restrukturisasi, Microsoft berencana melepas empat studio pengembang game dari naungan Xbox. Studio seperti Compulsion Games yang dikenal melalui South of Midnight dan Double Fine Productions yang mengembangkan Psychonauts akan kembali berdiri sebagai perusahaan independen.
Sementara itu, Ninja Theory dan Undead Labs disebut akan dipisahkan agar dapat lebih fokus mengembangkan waralaba masing-masing, seperti Senua dan State of Decay. Di sisi lain, masa depan Arkane Studios yang tengah mengerjakan game Blade masih dalam tahap pembahasan dengan serikat pekerja di Prancis.
Langkah ini menunjukkan bahwa Microsoft tidak hanya memangkas jumlah karyawan, tetapi juga melakukan evaluasi terhadap portofolio bisnis gaming yang dibangun dalam beberapa tahun terakhir. Namun, belum diketahui bagaimana dampaknya terhadap proyek-proyek game yang sedang berjalan.
Investasi AI Jadi Sorotan
Pemangkasan ini terjadi ketika Microsoft dan perusahaan teknologi besar lainnya terus meningkatkan investasi pada teknologi kecerdasan buatan (AI). Biaya pengembangan pusat data dan infrastruktur AI yang terus meningkat membuat perusahaan harus mencari efisiensi di berbagai lini bisnis.
Microsoft sendiri menegaskan bahwa posisi yang dihilangkan tidak secara langsung digantikan oleh AI. Meski demikian, perusahaan mengakui bahwa teknologi tersebut mulai mengubah cara kerja banyak tim dan proses bisnis di dalam organisasi.
Analis menilai langkah ini lebih mencerminkan upaya penataan ulang portofolio bisnis dibanding sekadar penghematan biaya. Investor kini lebih menaruh perhatian pada kemampuan Microsoft menghasilkan pendapatan dari AI, terutama ketika perusahaan diproyeksikan menghabiskan sekitar US$190 miliar untuk belanja modal sepanjang 2026.
Di saat yang sama, tekanan biaya juga mulai terasa pada bisnis gaming. Kenaikan harga chip memori dan investasi infrastruktur membuat Microsoft sempat menaikkan harga konsol Xbox, ketika permintaan pasar terhadap perangkat tersebut sedang melambat. Kondisi tersebut membuat restrukturisasi menjadi salah satu langkah yang dipilih perusahaan untuk menjaga efisiensi operasional ke depan.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

