Jakarta, Gizmologi – Adopsi kecerdasan buatan atau AI di Indonesia disebut mengalami ketimpangan menarik. Menurut Salesforce, para pekerja justru dinilai lebih siap memanfaatkan AI dibanding organisasi tempat mereka bekerja. Temuan ini diungkap dalam ajang Agentforce World Tour Jakarta 2026.
Presiden Direktur Salesforce Indonesia, Andreas Diantoro, menyebut penggunaan AI di level individu berkembang jauh lebih cepat. Banyak pekerja sudah mencoba AI untuk kebutuhan harian maupun produktivitas, sementara perusahaan masih bergerak lebih lambat dalam menyiapkan sistem dan kebijakan internal.
“Hanya 33% pekerja yang mengaku bahwa mereka mendapatkan pelatihan dan pengembangan keterampilan AI dari perusahaannya,” jelas Andreas terkait program yang mengharuskan karyawannya belajar mengenai AI di Indonesia.
Fenomena ini cukup masuk akal. AI generatif kini mudah diakses lewat berbagai platform publik. Karyawan bisa langsung mencoba tanpa menunggu keputusan manajemen. Namun ketika masuk ke level perusahaan, persoalannya menjadi jauh lebih kompleks: data sensitif, integrasi sistem, kepatuhan regulasi, hingga pelatihan SDM.
Baca Juga: OpenAI Rilis ChatGPT Images 2.0, Generator Gambar Kini Bisa Semakin Real
Pekerja Sudah Nyaman, Perusahaan Belum Sepenuhnya Siap

Salesforce menyebut survei terhadap 1.000 knowledge worker di Indonesia menunjukkan 68% responden merasa penggunaan AI secara pribadi meningkatkan kepercayaan mereka terhadap teknologi tersebut. Bahkan 70% mengaku rasa percaya diri saat bekerja ikut meningkat ketika memakai AI.
Selain itu, Salesforce memperlihatkan bahwa angka ini menunjukkan AI tidak lagi dipandang sekadar tren sesaat. Bagi banyak pekerja, AI mulai menjadi alat bantu nyata untuk menulis, merangkum, riset cepat, hingga menyusun ide.
Namun kesiapan individu tidak otomatis berarti kesiapan organisasi. Andreas menilai perusahaan membutuhkan konteks bisnis, data internal, dan batasan yang jelas agar AI menghasilkan output yang dapat diandalkan.
Masalahnya, hanya 33% pekerja yang mengaku mendapat pelatihan dan pengembangan keterampilan AI dari perusahaan mereka. Ini menandakan banyak organisasi masih bereaksi lambat terhadap perubahan yang sudah terjadi di level karyawan.
Risiko Shadow AI dan Tantangan Transformasi
Ketika perusahaan lambat beradaptasi, risiko lain muncul: shadow AI. Istilah ini merujuk pada penggunaan tool AI oleh karyawan tanpa pengawasan resmi perusahaan. Praktiknya bisa meningkatkan produktivitas, tetapi juga membuka celah keamanan data.
Jika pegawai memasukkan dokumen internal, data pelanggan, atau informasi sensitif ke platform publik, konsekuensinya bisa serius. Karena itu, banyak perusahaan global kini mulai menyusun kebijakan AI internal yang lebih tegas.
Salesforce sendiri menyoroti pentingnya melihat AI bukan sekadar belanja teknologi, tetapi bagian dari transformasi tenaga kerja. Konsep yang mereka dorong mencakup redesign pekerjaan, reskill karyawan, redeploy peran, dan rebalance struktur kerja.
Di sisi lain, perusahaan juga perlu realistis. Tidak semua proses cocok diotomasi AI, dan tidak semua organisasi punya kesiapan data yang matang.
Pada akhirnya, temuan ini menunjukkan satu hal penting: tantangan AI di Indonesia bukan lagi soal apakah pekerja mau memakai AI, tetapi apakah perusahaan mampu mengejar kecepatan perubahan itu dengan aman dan terarah.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



