Jakarta, Gizmologi – Memperingati Hari Bumi 2026, UNIQLO kembali menyoroti agenda keberlanjutan lewat berbagai program yang berkaitan dengan siklus hidup pakaian. Bukan hanya menjual produk, peritel asal Jepang itu ingin menempatkan fashion sebagai bagian dari gaya hidup yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Pesan yang diangkat cukup jelas: pakaian seharusnya dipakai lebih lama, dirawat lebih baik, dan ketika tak terpakai lagi bisa masuk ke rantai guna ulang. Narasi ini sejalan dengan konsep LifeWear yang selama ini menjadi identitas UNIQLO, pakaian simpel, fungsional, dan tahan lama.
Namun di tengah meningkatnya perhatian terhadap sustainability, industri fashion global juga menghadapi kritik soal produksi massal dan konsumsi berlebih. Karena itu, inisiatif seperti ini tetap perlu dilihat dari dua sisi: langkah positif untuk mengurangi limbah, sekaligus tantangan besar untuk membuktikan dampaknya benar-benar signifikan.
Baca Juga: Blibli Hadirkan Microsite JEDA, Dorong Kebiasaan Pause Culture
RE.UNIQLO Jadi Andalan Program Sirkular

Program utama yang kembali diangkat adalah RE.UNIQLO, inisiatif pengumpulan pakaian bekas UNIQLO melalui recycle box di seluruh toko. Pakaian yang masih layak pakai akan disalurkan melalui mitra kemanusiaan seperti Human Initiative, UNHCR, dan organisasi sosial lain.
Menurut perusahaan, dalam lima tahun terakhir lebih dari 290 ribu pakaian baru termasuk sample dan produk B-grade telah disalurkan, ditambah lebih dari 49 ribu pakaian layak pakai kepada lebih dari 11 ribu penerima manfaat. Dari sisi sosial, angka ini menunjukkan skala distribusi yang cukup besar.
Meski demikian, tantangan berikutnya adalah transparansi lanjutan: berapa banyak pakaian yang benar-benar dipakai kembali, berapa yang masuk proses daur ulang, dan seberapa besar kontribusinya dibanding total volume produk yang dijual setiap tahun.
Dari Limbah Tekstil Jadi Produk Baru
UNIQLO juga melanjutkan kolaborasi dengan PABLE Indonesia untuk mengolah pakaian bekas menjadi kain daur ulang. Material ini sudah dipakai sebagai gorden dan sofa di sejumlah toko, termasuk gerai di Bekasi dan Jakarta.
Langkah berikutnya adalah proyek upcycle bersama Micawork, UKM asal Solo, yang mengubah material tersebut menjadi tas sekolah. Tas ini rencananya akan didonasikan kepada anak-anak korban bencana di Aceh Tamiang melalui Save the Children Indonesia.
Inisiatif ini menunjukkan bahwa sustainability bisa menyentuh rantai ekonomi lokal, bukan hanya kampanye citra merek. Tetapi pada akhirnya, keberhasilan program seperti ini tetap bergantung pada konsistensi jangka panjang dan partisipasi konsumen untuk benar-benar mengubah pola konsumsi fashion sehari-hari.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.



