Waspada! Ini Tips Mengenali Modus Platform Robot Trading Forex

Jakarta, Gizmologi – Gairah masyarakat untuk berinvestasi makin tinggi, platform perdagangan yang menawarkan robot trading pun menjamur. Mulai dari robot trading forex (foreign exchange) hingga kripto yang menawarkan kemudahan untuk trading secara otomatis.

Meski ada yang benar, tak sedikit platform robot trading forex yang hanya berkedok menipu dan menjadi investasi bodong. Apalagi, banyak juga platform robot trading forex yang mengiming-imingi masyarakat dengan imbal hasil besar, minim risiko, dan tidak perlu melakukan kegiatan trading sama sekali.

Beberapa waktu lalu, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan telah memblokir 249 domain situs web entitas di bidang perdagangan berjangka komoditi (PBK) yang tidak memiliki izin.

Ternyata, sebagian dari platform yang diblokir tersebut menggunakan modus paling baru. Mereka membuat penawaran paket investasi berkedok penjualan robot trading forex melalui paket-paket investasi dengan menggunakan sistem member get member.

Kejanggalan Platform Robot Trading Forex Abal-abal

Ilustrasi reksa dana investasi trading saham aplikasi SimInvest
Ilustrasi investasi (Foto: 123rf/solarseven)

Pada dasarnya, robot trading forex adalah seperti memiliki asisten yang mengerjakan pekerjaan rutinnya saja. Fungsi utamanya untuk mengeliminasi sisi emosional dari trader dengan tujuan agar keputusan dibuat secara objektif bukan subjektif. Namun, jika robot dikeluarkan oleh pihak perusahaan terkait, hal ini menjadi sarat akan konflik kepentingan. Apalagi, jika robot trading forex tersebut menjanjikan keuntungan secara bombastis.

Menurut Desmond Wira, pengamat dan praktisi investasi, berdasarkan penelusurannya yang dibagikan di media sosial, ditemui beberapa kejanggalan pada platform robot trading forex. Desmond mengaku mendapatkan izin dari salah satu nasabah trading forex tersebut. Bahkan ia diberikan login dan password untuk masuk ke akun realnya.

Berikut ini sejumlah kejanggalan dari platform robot trading forex yang perlu diwaspadai

1. Tingginya rasio keuntungan dibanding kerugian

Platform robot trading forex ini menawarkan tingginya rasio keuntungan dibanding kerugian. Padahal tidak ada keuntungan yang mutlak 100%. Setiap bulan cetak profit hingga 10%. Statistik win ratenya 81-19. Artinya 81% trading menorehkan keuntungan, hanya 19% tradingnya mengalami kerugian. Robot trading tersebut jarang losing streak atau rugi beruntun, setelah rugi robot itu kembali profit. Selama bertahun-tahun losing streak paling banyak 3 kali.

Dengan keuntungan 10% per bulan, maka 1 tahun keuntungannya bisa 120%. Dengan profit sebesar itu sudah mengalahkan hampir semua trader profesional. “Lalu pertanyaannya kenapa repot-repot mencari nasabah receh?” tulisnya.

2. Hanya bisa dioperasikan broker tertentu

Praktik robot trading yang hanya bisa dioperasikan di broker tertentu. Padahal, dengan sistem Expert Advisor (EA) seharusnya robot trading dapat digunakan oleh broker forex lain. Hal ini diperparah dengan legalitas atau regulasi broker yang tidak jelas. Sehingga ketika terjadi penipuan, uang pengguna akan hilang semuanya.

3.Tidak menerima file ekstensi robot

Robot trading dalan platform MetaTrader berbentuk file ekstensi mq4 atau ex4. Nah menurut yang sudah join mereka tidak pernah melihat atau menerima file tersebut.

4. Transaksi yang janggal

Saat membuka akun salah satu pengguna, Desmond menemukan kejanggalan pembukaan posisi trading selalu dilakukan di harga Open. Hal ini terjadi di semua transaksi bertahun-tahun berapa ribu transaksi yang sudah terjadi dan semua terjadi di harga Open.

Selain itu, terjadi kejanggalan waktu dan harga tidak sesuai. Juga harga dan candle tidak sesuai. Dan yang paling parah, pembukaan posisi trading muncul belakangan (delay). Ternyata pembukaan posisi trading muncul belakangan, tidak sesuai dengan waktu yang tercantum di Trade History.

Padahal, saat trading real, tidak mungkin robot trading bisa ambil posisi selalu di harga Open. Hal ini disebabkan ada dinamika harga forex, faktor spread, slippage, dan koneksi server broker.

Ia menyimpulkan, robot trading forex populer yang ditest tersebut tidak dilakukan secara real, melainkan rekayasa. Modus operandinya adalah dengan cara merekayasa harga pembukaan posisi trading. Sedangkan harga penutupan posisi trading tetap mengikuti harga pasar. Dengan cara ini mudah sekali untuk mengatur suatu trading ingin profit atau rugi.

5. Skema member get member mengarah ke ponzi

Kejanggalan lain, skema member get member atau money game ala skema ponzi untuk memberikan keuntungan yang digunakan oleh berbagai platform robot trading forex. Logikanya, ketika robot trading forex terus digunakan, tidak perlu menggunakan member get member.

Hal tersebut dinilai justru mengindikasikan platform robot trading membutuhkan uang dari anggota baru untuk operasionalnya, layaknya skema ponzi lain. “Untuk memberikan keuntungan di awal, mereka pakai skema ponzi atau money game,” ujar Desmon seperti dilansir dari Detikcom (28/9).

Dengan skema money game, platform tersebut hingga kini masih bisa bertahan dan terus memperluas jaringannya. Namun itu hanya tinggal menunggu waktu, karena bakal ada 1 titik di mana pelaku tak mampu lagi gali lubang tutup lubang untuk membayar keuntungan investornya. “Saya menyarankan untuk menjauhi penawaran robot trading ini karena cenderung tidak aman atau berbahaya,” imbuhnya.

Tidak semua platform robot trading forex ilegal

Ternak UangAriston Tjendra, Pengamat Pasar Uang mengatakan, robot trading sebenarnya tidak hanya digunakan dalam platform investasi ilegal saja. Beberapa broker forex legal juga ada yang memiliki fitur tersebut. “Karena itu salah satu benefit, orang tidak perlu susah-susah mikir untuk trading,” ujar Arison dikutip dari detikcom.

Namun, semakin populernya robot trading membuat broker forex ilegal memanfaatkan teknologi itu untuk menggaet targetnya. Lalu mengapa robot trading forex ini semakin populer? Menurutnya, itu karena selama masa pandemi COVID-19 euforia investasi sangat tinggi. Banyak investor-investor baru atau newbie yang lahir, terutama dari kalangan milenial.

“Pandemi ini memunculkan investor-investor baru, kalangan milenial maupun orang-orang yang belum berinvestasi sebelumnya tiba-tiba tertarik investasi di masa pandemi ini. Para investor newbie tersebut mencari jalan instan untuk mendapatkan cuan. Mereka enggan menghabiskan waktu untuk belajar dari pengalaman bertransaksi,” ujarnya.

Tinggalkan komen