Jakarta, Gizmologi – Steam kembali menunjukkan dominasinya sebagai platform distribusi game PC terbesar di dunia. Berdasarkan laporan terbaru dari firma riset Alinea Analytics, platform milik Valve tersebut diperkirakan menghasilkan pendapatan kotor mencapai US$11,1 miliar atau sekitar Rp180 triliun selama paruh pertama 2026.
Angka tersebut menjadi pencapaian yang cukup signifikan. Sebagai perbandingan, sepanjang 2021 yang menjadi salah satu periode terbaik industri game akibat pandemi COVID-19, Steam diperkirakan menghasilkan pendapatan sekitar US$11,4 miliar dalam satu tahun penuh. Artinya, dalam enam bulan pertama 2026 saja, Steam hampir menyamai pendapatan tahunan pada masa puncak pertumbuhan industri game tersebut.

Meski Valve tidak pernah mengungkapkan laporan keuangan secara publik karena berstatus perusahaan privat, estimasi dari Alinea Analytics memberikan gambaran mengenai besarnya peran Steam dalam ekosistem game PC saat ini. Tren tersebut juga memperlihatkan bahwa pasar distribusi digital masih terus berkembang, meskipun industri game global sempat menghadapi perlambatan dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: Halo: Campaign Evolved Sudah Status Gold, Siap Meluncur Akhir Juli
Game Lama Masih Jadi Mesin Uang Steam

Menariknya, sebagian besar pendapatan mereka ternyata tidak berasal dari game yang dirilis tahun ini. Alinea Analytics mencatat hanya sekitar 21 persen pendapatan yang berasal dari game baru yang meluncur sepanjang 2026.
Sisanya datang dari katalog game lama yang masih aktif dimainkan dan dibeli oleh pengguna. Fenomena ini menunjukkan bahwa umur komersial sebuah game kini bisa berlangsung jauh lebih panjang dibandingkan era distribusi fisik. Diskon musiman, pembaruan konten, hingga komunitas pemain yang aktif menjadi faktor penting yang menjaga penjualan game lama tetap tinggi.
Untuk kategori game terlaris paruh pertama 2026, beberapa judul yang menonjol antara lain Forza Horizon 6 dengan pendapatan sekitar US$197,7 juta, diikuti Resident Evil Requiem sebesar US$194,5 juta dan Crimson Desert yang menghasilkan US$190,1 juta dari penjualan.
Pertumbuhan Asia dan Sulitnya Menyaingi Steam
Laporan tersebut juga menyoroti sejumlah faktor yang mendorong pertumbuhan Steam. Salah satunya adalah meningkatnya jumlah pengguna aktif di kawasan Asia, terutama Tiongkok yang menjadi pasar PC gaming terbesar di dunia.
Selain itu, semakin banyak publisher yang kembali memasarkan game mereka melalui Steam setelah sebelumnya mencoba membangun platform distribusi sendiri. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah perusahaan game berupaya mengurangi ketergantungan pada Steam, namun banyak di antaranya kesulitan menarik pengguna dalam jumlah besar.
Di sisi lain, pesaing seperti Epic Games Store masih mengandalkan program pembagian game gratis untuk mempertahankan daya tarik platformnya. Kondisi ini memperlihatkan bahwa posisi Steam sebagai pusat distribusi game PC masih sangat kuat. Meski demikian, tantangan tetap ada, terutama dari meningkatnya harga game dan perubahan perilaku konsumen yang semakin selektif dalam melakukan pembelian.
Eksplorasi konten lain dari Gizmologi.id
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

